Skip to main content

MAKALAH: Melestarikan Lingkungan Sesuai Perspektif Islam

MELESTARIKAN LINGKUNGAN SESUAI PERSPEKTIF ISLAM
Oleh : Zahwa Eza Soeseno
No. Absen : 80
NPM : 1801040033
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

MAKALAH: Melestarikan Lingkungan Sesuai Perspektif Islam

 Abstrak

Isu lingkungan merupakan bagian dari krisis global yang dampaknya sangat serius bagi kelangsungan hidup makhluk hidup yang ada di bumi. Merosotnya moral dan etika serta meningkatnya keapatisan manusia menjadi pemicu terbesar terjadinya krisis global. Timbulnya rasa maklum pada setiap kerusakan yang dilakukam juga mengakibatkan kerusakan lingkungan sulit dihindari. Kesadaran manusia yang lebih memfokuskan perannya sebagai khalifah seringkali malah menimbulkan dampak negatif. Padahal dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta dan isinya adalah sebagai sarana pembuktian dan pengetahuan tentang kemahakuaan dan keberadaan-Nya. Dan dengan adanya alam semesta ini juga menunjukkan bahwa Allah adalah zat Mahakuasa karena dapat mencipatakan segala sesuatu. Upaya menanggulangi kerusakan yang telah terjadi dan akan terjadi adalah dengan menanamkan pendidikan yang berwawasan lingkungan hidup sesuai nilai-nilai Islam. Diperlukan pendidikan tentang ekologi dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat agar paham tentang arti lingkungan dan menerapkan pola hidup yang senantiasa melestarikan lingkungan. Dengan adanya pemahaman tersebut diharapkan timbul rasa kepedulian dan simpati terhadap lingkungan. Harus diakui bahwa mengubah pola pikir seseorang tidaklah  mudah. Oleh karena itu pemahaman tentang lingkungan harus ditanamkan sejak dini agar pemahaman dan perilaku konservatif menjadi kebiasaan hidup masyarakat.


A.    PENDAHULUAN

Isu globalwarming merupakan permasalahan lingkungan yang dampaknya sangat luas dan besar bagi kelangsungan hidup makhluk hidup yang ada di bumi. Isu ini sudah muncul dari sekitar beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, manusia masih belum sepenuhnya sadar bahwa isu-isu seperti itu bukanlah hanya ‘’kabar burung’’ saja melainkan memang benar-benar nyata kita hadapi. Permasalahan tentang pemanasan global sendiri sebagian besar disebabkan oleh efek rumah kaca, karbon dioksida, dan kebakaran hutan.

Membicarakan masalah lingkungan seolah takkan ada habisnya. Pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini sudah sering dijumpai fenomena krisis global yang serius. Merosotnya moral dan etika serta meningkatnya keapatisan manusia menjadi pemicu terbesar terjadinya krisis global. Hal ini dibuktikan dengan dengan meningkatnya kerusakan ekosistem berupa; pencemaran lingkungan, pemanasan global, kebakaran hutan, dan efek rumah kaca yang semakin lama semakin mengancam keberlangsungan hidup seluruh penghuni alam ini.

Salah satu fenomena yang sering dibicarakan akhir-akhir ini adalah perubahan cuaca yang tidak sesuai pola pergantian musim. Di  Indonesia sendiri terdapat dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Dengan kedua musim itu, dijadukan acuan dalam melihat cuaca. Umumnya pada bulan April sampai September di Indonesia akan terjadi musim kemarau,  dan di bulan Oktober sampai Maret adalah musim penghujan. Akan tetapi, setelah memasuki abad 21 acuan tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi karena tidak jarang pada saat yang seharusnya kemarau di Indonesia malah hujan dengan intensitas yang tinggi begitupun sebaliknya.

Dari pernyataan di atas manusia dan lingkungan harus saling mulai melengkapi, apalagi fitrah manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga kemakmuran alam sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Al-An’am : 165 yang isi kandungannya adalah Allah Swt. telah menjadikan kita penguasa di bumi dengan meninggikan derajat kita dari yang lain dalam bentuk akhlak, ilmu, akal, pikiran, rezeki, kebaikan, penampilan, dan bentuk.[1] Semua itu Allah Swt. berikan bukan semata-mata tanpa alasan namun, untuk menguji apakah kita dapat memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kebaikan atau malah keburukan. Dari ayat ini Allah Swt. menyiratkan kita untuk senantiasa mengelola alam dengan sebaik mungkin karena kita telah diberi lebih dalam hal akal pikiran. Namun, nyatanya manusia malah menyalahgunakan kepintarannya untuk mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampak negatifnya. Sikap manusia ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam dimana manusia selain harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah (habl min Allah), hubungan yang baik dengan sesama manusia (habl min an-nās), dan juga harus menjaga hubungan yang baik dengan lingkungannya (habl min al-‘ālam).[2]

Kesadaran manusia yang lebih memfokuskan perannya sebagai khalifah seringkali malah menimbulkan dampak negatif. Manusia merasa paling berhak dalam mengeksploitasi alam ini. Mereka berlomba-lomba memanfaatkan alam secara berlebihan tanpa memikirkan dampak negatifnya. Padahal dampaknya bukan hanya akan dirasakan sekarang-sekarang ini, tapi juga dapat dirasakan di masa depan. Di masa depan nanti memang bukan kita yang merasakannya, tapi anak cucu kita. Tetapi, alangkah lebih baiknya kita menjaga alam bukan hanya untuk memikirkan kepentingan kita tapi juga kepentingan orang lain juga.

Belakangan ini, hanya karena merasa penguasa maka manusia melakukan kerusakan. Tetapi juga sikap maklum bagi diri sendiri dan orang lain setelah melakukan kerusakan. Contohnya bila A membuang sampah di sungai, yang lain akan memaklumi dengan penyangkalan-penyangkalan yang dipaksakan seperti sampahnya kecil jadi tidak masalah, sampahnya kertas jadi akan larut, sampahnya bukan limbah pabrik jadi tidak masalah dan pemakluman-pemakluman lainnya.

Masalah kerusakan lingkungan di Indonesia dan dunia semakin banyak dan sangat penting untuk segera dicari solusinya. Jika tidak segera dicari solusinya, maka keberlangsungan kehidupan manusia di bumi akan semakin menghawatirkan. Karena, alam menjadi sumber pemenuhan segala kebutuhan manusia. Dari penyedia air, udara, makanan, obat-obatan, dan masih banyak lagi. Kerusakan alam sama dengan menurunnya kualitas hidup manusia.

Manusia harus menjaga keharmonisannya dengan alam. Karena, alam dan manusia sama-sama ciptaan-Nya yang saling membutuhkan. Manusia membutuhkan alam sebagai pemenuh kebutuhannya sedangkan alam membutuhkan manusia sebagai perawat dan pengelola. Manusia boleh memanfaatkan alam tapi jangan sampai tindakan eksploitasi atau merusak.

Interaksi yang tidak sehat antara manusia dan alam dikarenakan beberapa hal, diantaranya minimnya pengetahuan manusia tentang konsep penguasaan alam dan konsep pendidikan agama yang mengandung nilai-nilai akhlak. Bila manusia menguasai konsep penguasaan alam, tidak akan terjadi kerusakan alam yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Karena, meskipun manusia adalah makhluk yang dinamis, mobilitasnya tetap dibatasi oleh kondisi lingkungannya. Dengan begitu manusia akan bijak memanfaatkan alam karena memiliki pengetahuan tentang batasan-batasan tersebut.

Padahal di dalam Islam Allah Swt. telah mengajarkan umat-Nya tentang menjaga lingkungan sebagaimana tertuang dalam Q.S Al-Baqarah ayat 205 yang maknanya adalah Allah Swt. telah mengajarkan manusia untuk tidak merusak alam, baik itu tanaman maupun hewan karena yang demikian itu merupakan perbuatan orang munafik (orang yang berpaling dari-Nya). Dari ayat ini juga dapat kita ketahui bahwa agama menjadi rem bagi manusia untuk tidak berbuat kerusakan.[3] Agama diharapkan menjadi tolak ukur manusia dalam berperilaku dan bertindak. Dengan begitu, kerusakan lingkungan dapat berkurang dan diharapkan tidak terjadi lagi kerusakan lingkungan karena ulah manusia.

Oleh karena itu, dengan adanya alam dan seisinya harus selalu dijaga, dirawat, dipelajari, dikembangkan, dan diambil manfaatnya sebijak mungkin. Alam ada bukan untuk di rusak dan dihancurkan. Karena walaupun alam ini dibuat untuk kemaslahatan umat, bukan begitu caranya memperlakukan alam. Alam juga butuh disayang dan diperhatikan agar manfaat yang dia beri bias semaksimal kita memperlakukannya. 

B.     TUJUAN PENCIPTAAN LINGKUNGAN 

Ada baiknya bila kita mengetahui apa saja tujuan penciptaan lingkungan yang sejatinya adalah untuk kita. Allah Swt. menciptakan segala sesuatu pasti dengan maksud dan tujuan. Tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu hanya untuk ada-adaan saja tanpa tujuan sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. Shad ayat 27 yang isinya bahwa Allah menegaskan, Dia menciptakan alam dan seisinya dengan maksud dan tujuan.[4] Hanya orang kafir yang berpikir bahwa penciptaan alam semesta ini tanpa maksud dan tujuan. Di ayat ini juga Allah menyiratkan kita untuk menjaga dan mengelola alam dengan baik karena Dia menciptakannya dengan tujuan.[5] Terkadang manusia lupa akan hakikatnya sebagai khalifah yang diamanahkan untuk menjaga alam. Manusia terlalu fokus mengambil manfaat dari alam sebanyak-banyaknya hingga lalai dengan kewajibannya untuk menjaga alam. Adapun beberapa tujuan penciptaan lingkungan adalah sebagai berikut :

·         Sebagai sumber unsur-unsur penting

Tanpa adanya lingkunga kita tidak akan bertahan karena lingkungan menyediakan kebutuhan yang sangat-sangat mendasar seperti oksigen, air dan mineral.



·         Tempat beraktifitas

Dalam hal ini lingkungan mempunyai funsi sebagai tempat untuk melakukan segala kegiatan makhluk hidup, mulai dari manusia, hewan sampai tumbuhan.

·         Sebagai pemenuh kebutuhan

Di dalam lingkungan sudah tersedia semua kebutuhan yang dibutuhkan makhluk hidup. Tanpa adanya lingkungan makhluk hidup tidak akan pernah bertahan.

Sejak penciptaan alam semesta, Allah telah memberlakukan sunatullah bagi ciptaan-Nya agar terwujud keteraturan dan keseimbangan alam. Secara alamiah, alam akan memperbaki diri sendiri bila terjadi kerusakan.

Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta dan isinya adalah sebagai sarana pembuktian dan pengetahuan tentang kemahakuaan dan keberadaan-Nya. Keberadaan alam dan seisinya mewajibkan adanya pencipta yang menciptakannya. Dengan adanya alam semesta menunjukkan keberadaan Allah Swt. sebagai Maha Pencipta. Dan dengan adanya alam semesta ini juga menunjukkan bahwa Allah adalah zat Maha Kuasa karena dapat mencipatakan segalanya.

Selain untuk menujukkan keberadaan dan kemahakuasaan-Nya, alam juga diciptakan untuk digunakan sebaik-baiknya oleh manusia. Alam diciptakan untuk menyokong kehidupan manusia sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 29 yang maksudnya adalah Allah dengan segala kemurahan hati-Nya menciptakan lingkungan ini untuk manusia. Semua ini ada untuk diambil manfaatnya dengan sebaik-baiknya (secukupnya). Jangan sampai karena mengetahui bahwa sesungguhnya alam ini diciptakan untuk kepentingan manusia, kita jadi serakah dan mengambil manfaat dari alam dengan berlebih-lebihan tanpa memikirkan dampak negatif dari sifat serakah itu. Karena Allah selalu mengajarkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala sesuatu. Lagi pula, dampak yang ditimbulkan dari sifat serakah bukan hanya akan dirasakan dalan jangka pendek tapi juga jangka panjang.

Kebutuhan manusia akan lingkungan memang tidak akan ada habisnya. Setiap hari akan ada saja kebutuhan-kebutuhan yang terus muncul. Mulai dari kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan sampai ke yang tersier maupun sekunder seperti kendaraan. Meningkatnya jumlah manusia yang ada di dunia setiap harinya berdampak besar juga pada kebutuhan akan lingkungan sebagai tempat tinggal. Banyaknya manusia di bumi berbanding lurus dengan meningkatnya segala kebutuhan.

Dengan telah diciptakannya alam untuk manusia ini, seharusnya manusia selalu bersyukur dan memanfaatkan alam dengan bijak sehingga manfaatnya dapat terus kita rasakan. Janganlah kita serakah dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan karena Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berlebih-lebihan. Dan janganlah manusia lalai dengan tugasnya sebagai khalifah untuk selalu melestarikan lingkungannya.

C.    PENDIDIKAN EKOLOGI YANG SESUAI AJARAN ISLAM

Sudah kita ketahui, segala bentuk kerusakan yang ada di bumi ini adalah ulah manusia. Maka dari itu, harus manusia jugalah yang memperbaikinya. Upaya menanggulangi kerusakan tersebut adalah dengan membangun pendidikan yang berwawasan lingkungan hidup. Karena, semua persoalan yang sekarang ini sedang kita hadapi dapat diatasi dengan pendidikan.[6] Artinya, kegagalan pemerintah dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup adalah karena gagalnya pemerintah dalam menyampaikan pendidikan lingkungan.

Pendidikan yang baru dan termasuk paling penting sekarang ini adalah pendidikan tentang lingkungan. Pendidikan tersebut membahas pengetahuan tentang lingkungan di sekeliling manusia dan menjaga komponen-komponen nya yang bila tidak dijaga akan mendatangkan kehancuran, pencemaran, dan kerusakan. Rasulullah pernah mengajarkan kepada sahabatnya tentang pentingnya bercocok tanam, menanam pohon, dan pentingnya mengubah lahan yang tandus menjadi lahan yang subur.[7] Pendidikan lingkungan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah berdasarkan wahyu yag diterimanya sehingga banyak kita jumpai hal serupa di dalam Al-Quran dan As-Sunah.

Lingkungan hidup sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, pembangunan lingkungan hidup pada hakekatnya untuk mengurangi resiko lingkungan dan memperbesar manfaat lingkungan. Dan manusia lah pemegang kendali dalam pembangunan lingkungan. Pembangunan ini dapat dilakukan dengan pendidikan ekologi yang dimulai dari bangku sekolah.

Upaya memakmurkan dan memelihara tersebut bertujuan untuk melestarkan daya dukung lingkungan yang dapat menopang secara berkelanjutan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang diusahakan manusia dalam pembangunan tersebut. Walaupun lingkungan berubah, usahakan agar tetap pada kondisi yang mampu menopang secara terus menerus pertumbuhan dan perkembangan, sehingga kelangsungan hidup anak cucu kita dapat terjamin dam meningkatkan mutunya juga. Dimulai dari pendidikan ekologi di sekolah-sekolah di harapkan dapat memberikan dampak yang nyata bagi lingkungan.

Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata oikos yang artinya ‘rumah’ atau ‘tempat untuk tinggal’ dan logos yang artinya ílmu’.[8] Secara harfiah ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup di dalam rumahnya. Jadi, dapat dipahami tentang pengertian ekologi sebagai ilmu yang membahas tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.

Salah satu penyebab rusaknya lingkungan karena ulah manusia adalah kurangnya pengetahuan tentang lingkungan dan dampak yang ditimbulkan jika tidak dirawat dengan baik. Manusia memang diberi kelebihan akal oleh Allah namun kurangnya informasi bagi sebagian orang tentang hal tersebut mengakibatkan mereka berbuat sesukanya karena tidak mengetahui dampak buruknya bagi mereka sendiri. Contohnya, masyarakat yang tidak tahu bahwa membuang sampah di aliran air dapat menyebabkan banjir seringkali menyalahkan pemerintah bila bencana tersebut melanda. Padahal tersumbatnya saluran air karena sampah-sampah mereka itulah faktor utama penyebab banjir.

Dengan berkembangnya ilmu pengatahuan dan teknologi (IPTEK) memudahkan sosialisasi tentang ekologi. Dari pendidikan misalnya, dapat dimasukkan tentang ekologi dalam pelajaran biologi. Sedangkan dalam dunia teknologi, ekologi dapat disebarluaskan melalui blog-blog di internet dan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain. Penyebaran informasi melalui media sosial memang lebih efektif akhir-akhir ini seiring dengan semakin besarnya tingkat penggunaan media sosial terutama di kalangan remaja.

Diperlukan pendidikan tentang ekologi dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat agar agar paham tentang arti lingkungan. Dengan adanya pemahaman tersebut diharapkan timbul rasa kepedulian dan simpati terhadap lingkungan. Harus diakui bahwa mengubah pola pikir seseorang tidaklah  mudah. Diperlukan kesabaran ekstra untuk mewujudkannya. Oleh karena itu pemahaman tentang lingkungan harus ditanamkan sejak dini agar pemahaman dan perilaku konservatif menjadi kebiasaan hidup masyarakat.

Usaha ini diperlukan waktu yang lama dan peran dari semua pihak, baik pemerintah, instansi, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, dan semua lapisan masyarakat. Salah satu target pendidikan tentang ekologi untuk usia dini adalah pelajar di tingkat Sekolah Dasar (SD). Mereka merupakan target potensial untuk dapat menerima wawasan akan pentingnya menjaga alam. Dikemudian hari, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan membawa pemikiran tentang konservasi lingkungan.

Pendidikan harus didesain untuk merubah perspektif dan pemahaan tentang pentingnya pelestarian lingkungan agar tetap berkualitas dan sehat. Dengan demikian, kita diharapkan dapat membangun dan mengembangkan sebuah model sekolah atau madrasah yang berfokus pada pengelolaan dan penataan lingkungan. Sekolah itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pengelolaan dan penataan serta perlindungan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan.

            Oleh sebab itu pengetahuan tentang ekologi dan konservasi lingkungan sudah saatnya dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Apabila peserta didik memiliki sikap dan tingkah laku yang baik terhdap lingkungan, maka peserta didik itu akan mampu menjadi sumber daya manusia yang berkualitas juga.[9] Penyampaian materinya pun harus dengan cara yang lebih menarik dan melibatkan aspek kecerdasan, perasaan, keterampilan dan sosial. Melalui adanya pendidikan tentang ekologi dan konservasinya diharapkan akan tumbuh rasa sayang, rasa memiliki, bahkan sampai pada rasa ingin melindungi. Karena mereka mengetahui apa itu ekologi dan segudang manfaat lingkungan bagi keberlangsungan hidup manusia. Akhirnya mereka memiliki rasa ingin melindungi agar manfaat tersebut dapat mereka rasakan untuk jangka panjang juga menghindari dampak negatif dari kerusakan alam yang mereka timbulkan.

            Dalam segi Islam, pendidikan tentang menjaga lingkungan sudah banyak tertuang dalam Al-Quran. Allah Swt. selalu mengajarkan umatnya untuk saling menjaga satu sama lain, bukan hanya manusia dengan manusia tetapi juga manusia dengan lingkungan di sekelilingnya. Manusia yang diutus Allah ke bumi ini berkewajiban menjaga, merawat, dan melestarikan alam karena alam adalah sumber pemenuh kebutuhan manusia selama tinggal di bumi ini.[10] Manusia dengan segala perkembangan pengetahuan dan teknologinya diharapkan mampu mengoptimalkan segala daya dan upaya demi menjaga dan merawat alam. Oleh karena itu, kebereadaan ayat-ayat tentang  alam dan segala isinya merupakan tugas kita untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

      Allah selalu mewanati-wanti manusia dalam bertindak. Karena setiap perbuatan kita akan kembali lagi ke kita. Dan juga setiap perbuatan kita itu selalu ada balasannya di akhirat kelak. Bila kita berbuat baik dengan niat yang baik pula, maka yang akan kembali kepada kita akan baik juga serta balasan di akhirat nanti akan dicatat sebagai amalan kebaikan. Begitupun sebaliknya, bila kita selalu berbuat keburukan di dunia ini maka amalan yang kita peroleh adalah amalan keburukan di akhirat kelak.

D.    KEWAJIBAN MENJAGA LINGKUNGAN

Melalui Al-Quran dan sunah-Nya, Allah Swt. telah memberikan informasi kepada manusia untuk bersikap ramah terhadap alam. Informasi tersebut menegaskan bahwa manusia harus selalu menjaga dan merawat lingkungannya agar tidak rusak nahkan punah. Karena, Allah memberikan kita alam dan seisinya semata-mata adalah sebagai amanah yang harus kita pertanggung jawabkan nantinya di akhirat. Seyogyanya kita selalu mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-nya. Salah satunya dengan tidak merusak alam tetapi melestarikannya.

Islam adalah agama yang sangat ramah lingkungan. Banyak di dalam Al-Quran dan Hadist yang membahas tentang lingkungan. Pesan-pesan di dalamnya pun sangat jelas. Di dalam Islam sendiri, manusia adalah makhluk terbaik di antara semua ciptaan-Nya yang diangkat menjadi khalifah dan memegang tanggung jawab mengelola alam dan memakmurkannya.[11] Namun banyak yang hanya sekedar tahu posisinya tanpa tahu tanggung jawabnya.

Menurut Islam, adanya alam bukan hanya sebagai pemenuh kebutuhan manusia juga sebagai petunjuk tentang keberadaan Allah.[12] Maka dari itu, kita harus menjaga sikap kita terhadap alam. Karena alam adalah sesuatu yang menjadi wujud nyata keberadaan-Nya dan kemahakuasaan-Nya. Sebaik mungkin kita menjaga alam seperti kita menjaga barang berharga. Karena tanpa kita sadari alam adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga bagi kehidupan manusia.

 E.     UPAYA PELESTARIKAN LINGKUNGAN

Pendapat bahwa flora dan fauna diciptakan hanya untuk keuntungan manusia mendorong terjadinya kerusakan alam dan pengeksploitasian hasil-hasil alam yang berlebihan karena manusia menganggap dirinya adalah penguasa di alam padahal penguasa sesungguhnya adalah Allah SWT. Mereka melakukan pengrusakan seolah-olah Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjaga alam. Padahal Islam sudah mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada alam baik kepada lingkungan, hewan, dan tumbuhan. Jika lingkungan tidak dijaga bahkan dirusak keberadaannya, maka akan timbul berbagai macam bencana dan penyakit. Saat ini terjadi banjir di mana-mana salah satu akibat dari penebangan liar dan pembuangan sampah sembarangan yang dilakukan manusia yang serakah demi kepentingannya sendiri. Yang kita lakukan seharusnya adalah bukan merusak lingkungan tetapi melestarikannya. Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam rangka melestarikan lingkungan, yaitu sebagai berikut:

1.      Menerapkan Pola Hidup Ramah Lingkungan

Ramah lingkungan adalah segala sesuatu yang tidak merusak lingkungannya.  Manusia yang ramah lingkungan bukan hanya tidak merusak alam tetapi juga berusaha selalu menjaganya. Lingkungan adalah tempat kita hidup dan mencari penghidupan. Maka dari itu sudah sepatutnya kita untuk selalu melakukan kegiatan yang ramah lingkungan. Jika alam rusak maka manusia juga yang akan terkena dampaknya. Semua yang ada di dunia ini adalah hukum timbal balik. Apabila kita memakai etika ketika berhubungan dengan alam maka alam akan membalas dengan sesuatu yang baik pula.[13]

Situasi modern yag saat ini sedang berkembang pesat dan dengan sangat jelas pula ditandai oleh kerusakan lingkingan. Islam secara khusus memperhatikan manusia dan lingkungannya. Manusia, alam, dan makhluk ciptaan Allah lainnya  di alam semesta ini adalah sebuah ekosistem kesinambungannya amat bergantung pada moralitas manusia sebagai khalifah di bumi.

Dengan begitu, maka melindungi dan merawat lingkungan hidup menjadi semakin jelas adalah kewajiban manusia. Oleh karena itu, rasanya sangat perlu sekali gagasan yang telah disebutkan tadi disosialisasikan kepada masyarakat. Dalam hal ini di Indonesia, para ulama memiliki peranan yang amat penting dalam menyebarkan informasi ini. Ulama memiliki kewajiban memberikan sumbangsih yang nyata dalam masyarakt. Ulama harus meyakinkan publik bahwa beban menjaga linngkungan adalah tanggung jawab setiap muslim bukan hanya pemerintah. Terlebih dalam konteks ke-Indonesiaan, sosialisasi tentang lingkungan terasa semakin mendesak mengingat banyaknya bencana alam yang sering terjadi akibat ulah manusia. Ulama dapat mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup ramah lingkungan.

Menerapkan pola hidup ramah lingkungan di kehidupan sehari-hari sebenarnya adalah hal yang mudah dilakukan. Namun, masih banyak hal-hal besar maupun kecil yang kita lakukan berdampak buruk bagi lingkungan. Mengendarai mobil, motor, mengahambur-hamburkan listrik dengan tidak mematikannya ketika telah selesai menggunakannya adalah contoh kecil tindakan ramah lingkungan yang sering kita lakukan.

Dimuali dari sekarang mari kita coba melakukan segala sesuatu yang ramah lingkungan, diantarannya sebagai berikut :

a.       Matikan dan cabut alat elektronik dari saklar

Dengan terus tercoloknya alat elektronik di saklar sama saja dengan membuang energi. Karena, kegiatan tersebut tidak ada gunanya sama sekali.

b.      Mengganti lampu biasa dengan lampu ramah lingkungan

Lampu ramah lingkungan hanya memakai sepertiga daya listrik dibanding lampu biasa. Disamping itu, lampu ramah lingkungan juga lebih hemat dan umurnya lebih panjang.

c.       Mengganti komputer desktop dengan laptop

Dengan mengganti komputer desktop dengan laptop bisa menghemat banyak energi dengan catatan menggunakan daya baterai laptop semaksimal mungkin sebelum mengisinya kembali.

d.      Hindari penggunaan kendaraan bermotor

Sebisa mungkin hindarilah penggunaan kendaraan bermotor apalagi jika jarak tempuhnya masih dapat dijangkau sepeda atau kaki. Dengan meminimalkan penggunaan kendaraan bermotor, kita dapat membantu pengurangan polusi udara dan menghemat bahan bakar minyak.

e.       Hemat-hematlah dalam penggunaan air

Gunakan air secukupnya, matikan kran bila sudah tidak dibutuhkan, gunakan toilet model baru yang memiliki mode penyiraman hemat air, gunakan mesin cuci yang bisa menggunakan sedikit air dan masih banyak lagi.

f.       Terapkan 3R ( Reuse, Recycle, dan Reduce)

Bawa sampah-sampah di sekitar kita ke tempat daur ulang, and jika barang-barang kita masih dapat digunakan, hindari membeli yang baru.

Setelah mengetahui beberapa tindakan yang termasuk ramah lingkungan, diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena buakn hanya untuk lingkungan sendiri tetapi manusia juga terkena dampak positifnya. Contohnya,  menipisnya pengeluaran karena berhemat dalam penggunaan listrik, air, bahan bakar minyak, mengurangi pembelian barang baru karena memakai yang lama, dan lain-lain. Dari penghematan itu, uang yang biasanya dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat digunakan untuk yang lain. Semakin hari harga-harga semakin naik dan solusi terbaiknya adalah dengan ramah lingkungan.

Allah Swt. pun telah mengegaskan bahwa manusia dilarang berlebih-lebihan. Dari makanan, pakaian, sampai ibadah pun Allah melarang umatnya untuk berlebih-lebihan. Ibadahpun yang sejati harus selalu kita lakukan, Allah melarang kita untuk berlebih-lebihan apalagi hal mudah seperti yang tertera di atas. Sebisa mungkin bila sudah selesai menggunakan air, matikan krannya jangan sampai airnya luber kemana-mana. Masih banyak saudara kita yang kekurangan air bersih, sedangkan kita di sini menghambur-hamburkannya. Allah mengutus manusia menjadi khalifah agar kita memakmurkan alam salah satu caranya dengan menerapkan pola hidup ramah lingkungan.[14]

2.      Perlindungan Terhadap Sistem Penyangga Kehidupan

Memelihara lingkungan dalam Islam merupakan bagian dari ibadah. Oleh karena itu, Islam menjadi rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang mengajak umatnya agar selalu mencintai lingkungan. Mematuhi dan mengamalkan syariat Islam merupakan kewajiban yang harus selalu dilakukan setiap muslim. Bagi individu yang telah memahami tentang keharusan menjaga lingkungan, sebaiknya diberitahukan kepada saudaranya yang lain. Sehingga, semua orang dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan sesuai nilai-nilai islami.

 Sistem penyangga kehidupan merupakan suatu proses alami dari berbagai unsur hayati dan non hayati yang menjamin kelangsungan hidup makhluk hidup. Perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan bertujuan agar terciptanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan hidup, meningkatkan kesejahteraan, dan meningkatkan mutu kehidupan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut pemerintah telah menetapkan wilayah tertentu untuk melakukan perlindungan, pola dasar pembinaan wilayah perlindungan, dan pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan. Agar semuanya terkondisikan.

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, Islam pun telah mengenalkan konsep hima yaitu wilayah tertentu yang digunakan untuk konservasi alam. Di dalam wilayah perlindungan tersebut tidak boleh didirikan bangunan atau membuat ladang. Hima digunakan untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar. Imam Syafií menjelaskan ada dua pendapat ulama tentang hima, pendapat pertama menyatakan bahwa tidak boleh ada yang melakukan konservasi lingkungan kecuali lahannya telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW.[15] Sedangkan pendapat kedua memperbolehkan semua pemimpin untuk melakukan konservasi lingkungan.[16]Sumber daya alam harus dikonversikan karena keberadaannya mempengaruhi kehidupan manusia dalam segala bidang.

3.      Pemanfaatan Secara Lestari Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya

Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam dan ekosistemnya dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini :

1)      Memanfaatan kondisi lingkungan wilayah pelestarian alam

Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi wilayah tersebut.

2)      Memanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar

Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilakukan salah satu contohnya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan tentang tumbuhan dan satwa liar tersebut. Keikutserataan masyarakat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya ditujukan dan dijalankan oleh Pemerintah melalui kegiatan-kegiatan yang berguna bagi kelestarian lingkungan.

4.      Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati adalah berbagai macam bentuk, wujud, banyaknya, dan sifat yang tampak pada berbagai tingkatan pengelompokan makhluk hidup yang meliputi tingkat ekosistem, tingkat jenis (spesies), dan keanekaragaman ekosistem. Berdasarkan hal tersebut, keanekaragaman hayati dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu keanekaragaman gen, keanekaragaman jenis, dan keanekaragaman ekosistem.

Fungsi keanekaragaman hayati yaitu:

Sumber bagi kelangsungan hidup manusia karena bahan sandang, pangan, papan, obat-obatan, dan kebutuhan hidup lain berasal dari keanekaragaman hayati.
Sumber ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menunjukkan kemahakuasaaan Allah SWT.
Merosotnya kualitas dan kuantitas keanekaragaman hayati, menjadikan semakin berkurang juga manfaat yang dapat diambil manusia. Penurunan keanekaragaman hayati dapat diantisipasi dengan cara melakukan pelestarian (konservasi) keanekaragaman hayati. Konservasi keanekaragaman hayati memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

Mewujudkan fungsi ekosistem sebagai sumber penyangga kehidupan.
Mencegah terjadinya kepunahan spesies yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan eksploitasi yang tidak terkendali.
Menyediakan sumber daya genetik untuk mendukung pengembangan dan budidaya tanaman pangan, obat-obatan, maupun hewan ternak.
Adapun cara pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

a)      Metode Insitu

Metode insitu adalah upaya pelestarian keanekaragaman hayati, yang langsung di lakukan di alam tempat flora dan fauna tersebut berasal. Metode insitu, memberikan perlindungan kepada daerah yang dianggap memiliki ekosistem yang unik, dengan flora dan faunanya yang terancam punah. Setiap daerah yang dilindungi pemerintah, tidak boleh dilakukan penebangan apapun. Selain itu, perburuan hewan yang berada di dalam daerah yang dilindungi pun dianggap sebagai perburuan ilegal. Ada beberapa bentuk pelestarian hayati yang menggunakan metode insitu, yaitu :

1.      Suaka marga satwa adalah upaya perlindungan pada ekosistem yang dinilai memiliki keunikan. Keunikan itu juga berisi berbagai macam jenis flora dan fauna yang harus dilindungi.

2.      Taman nasional adalah sebidang tanah yang mendapatkan perlindungan mutlak dari pemerintah. Tanah ini berisi ekosistem-ekosistem yang dilindungi.

3.      Cagar alam adalah keadaan alam yang mempunyai sifat yang khas melalui flora dan fauna yang ada di dalamnya. Cagar alam juga memiliki ekosistem yang harus dilindungi.

4.      Hutan suaka alam (hutan lindung) adalah hutan yang memiliki ekosistem yang dilindungi di dalamnya.

b)      Metode Eksitu

Metode eksitu adalah metode pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan dengan cara mengambil fauna dan flora dari wilayah aslinya, dengan tujuan melakukan konservasi, perlindungan, serta pengembang biakan. Metode ini juga dilakukan saat ekosistem tempat flora maupun fauna tersebut tinggal telah rusak dan membutuhkan waktu untuk dapat layak jika diinggali kembali. Metoden eksitu juga sebagai upaya konservasi dengan cara mengumpulkan spesies langka, sehingga masa hidup mereka bisa sedikit lebih lama karena kehidupannya terjamin. Dalam metode ini terdapat beberapa cara pelestarian, yaitu :

1.      Kebun binatang adalah salah satu bentuk konservasi dengan menggunakan lingkungan alam buatan, yang setiap jenis spesiesnya terpisah. Setiap spesies akan berada di dalam kandang yang terpisah dengan spesies lain. Kekurangan dari kebun binatang adalah ruang gerak hewan menjadi terbatas.

2.      Taman safari adalah upaya pelestarian flora dan fauna dengan pembuatan lingkungan buatan yang satu wilayah besarnya dihuni oleh beberapa spesies. Setiap wilayah terpisah oleh pagar tinggi. Pengunjung harus memakai mobil atau kendaraan dari taman safari jika ingin mengunjungi serta melihat jenis fauna dan flora di dalamnya. Di taman safari, ruang gerak hewan lebih bebas karena daerahnya yang luas.

3.      Taman hutan raya adalah taman hutan yang sebagian masih habitat asli, dan sebagiannya adalah lingkungan buatan. Taman hutan raya mengkhususkan pada konservasi koleksi tumbuhan. Ciri- ciri hutan raya adalah mempunyai koleksi tumbuhan yang banyak serta unik, mempunyai wilayah yang luas, serta masih memiliki keindahan habitat aslinya.

Metode eksitu adalah salah satu metode yang baik dalam pelestarian kekayaan hayati. Hanya saja, terdapat beberapa kebun binatang tidak mampu memelihara satwa yang dikonservasi di tempat mereka. Bahkan beberapa satwa harus mati akibat kelaparan atau karena tidak adanya dokter hewan sehingga bila terdapat hewan yang sakit akan terlambat penanganannya. Konservasi menggunakan metode eksitu memerlukan perhatian lebih, karena flora dan fauna ini berada dalam lingkungan yang berbeda dari habitat asli mereka.

F.     FAKTOR-FAKTOR KERUSAKAN LINGKUNGAN

Kerusakan lingkungan telah menjadi perhatian dunia. Kerusakan lingkungan  dikarenakan banyak kegiatan manusia yang hanya terfokus  untuk memenuhi kebutuhan biologis maupun teknologi dan tanpa disadari mengakibatkan kerusakan lingkungan yang bahyanya mengancam seluruh penduduk bumi. Berikut adalah faktor-faktor penyebab rusaknya lingkungan :

1.      Faktor Alam

Berbegai bencana alam yang akhir-akhir ini menimpa dunia terlebih Indonesia  telah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan. Dahsyatnya gempa bumi yang baru-baru ini mengguncang Lombok adalah salah satu contoh faktor alam yang dapat merusak lingkungan. Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan antara lain sebagai berikut :

·         Letusan gunung berapi

Gunung meletus adalah peristiwa keluarnya endapan magma dari perut bumi yang didorong oleh gas bertekanan tinggi yang terjadi pada gunung-gunung berapi. Hasil letusan gunung berapi antara lain lava, lahar, gas vulkanik, hujan abu, dan awan panas yang dapat mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Bentuk kerusakan lingkungan yang dapat diakibatkan oleh meletusnya gunung berapi antara lain :

Ø  Material padat yang dilemparkan oleh gunung api berupa batuan, kerikil, dan pasir yang dapat merusak, menimpa, bahkan menimbun lahan pertanian, hutan, perkebunan, hingga pemukiman penduduk dan sumber air bersih.

Ø  Hujan abu vulkanik yang menyertai letusan gunung berapi menyebabkan gangguan pernafasan, mempengaruhi jarak pandang dan intensitas cahaya matahari, menutup dan merusak tanaman pertanian, mengganggu aktifitas transportasi, dan sebagainya sebagainya, sehingga akan mengurangi produksi dan aktivitas manusia.

Ø  Lava panas (pijar) yang meleleh merusak daerah yang dilaluinya, baik berupa hutan, perkebunan, lahan pertanian hingga pemukiman penduduk.

Ø  Awan panas dengan berbagai material yang dibawanya, bergerak dalam kecepatan tinggi dan suhu yang mencapai ratusan derajat dapat menghanguskan wilayah yang diterjangnya termasuk menewaskan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ø  Aliran lahar dapat menyebabkan pendangkalan sungai, atau menyebabkan terjadinya banjir bandang saat musim penghujan.

Ø  Gas yang mengandung racun dapat mengancam keselamatan manusia, hewan, dan tumbuhan di sekitarnya.

·         Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran di kulit bumi yang dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya aktivitas gunung berapi, terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur seberapa besar intensitas gempa, namun manusia tidak akan pernah dapat mengetahui kapan terjadinya gempa hanya Allah lah yang mengetahuinya. Oleh karena itu bahaya gempa bumi lebih parah dari letusan gunung berapi, diantaranya;

Ø  Kerusakan bangunan.

Ø  Tanah longsor.

Ø  Perubahan struktur tanah dan batuan

Ø  Degradasi lahan dan kerusakan bentang lahan

Ø  Pencemaran udara

Ø  Krisis air bersih

Ø  Tsunami (gempa bumi di laut)

Ø  Jatuhnya korban baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.

·         Angin topan, badai, angin puting beliung, dan sejenisnya

Angin topan, badai, dan sejenisnya itu terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi ke kawasan yang bertekanan rendah. Perbedaan tekanan ini dikarenakan perbedaan suhu udara yang mencolok. Di Indonesia sendiri pernah terjadi pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim yang ekstrim yang disebabkan oleh pemanasan global. Kerusakan yang ditimbulkan dari bencana angintopan adalah robohnya bangungan, rusaknya lingkungan, membahayakan penerbangan, dan menimbulkan ombak besar yang dapat membahayakan pelayaran.

·         Tanah longsor

Tanah longsor adalah peristiwa geologi yang diakibatkan oleh pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah. Tanah longsor dapat diakibatkan oleh erosi karena gerusan air pada kaki lereng yang curam, melemahnya lereng dari bebatuan dan tanah akibat saturasi yang diakibatkan hujan lebat, getaran dari gempa bumi, gunung meletus, maupun mesin dan lalu lintas kendaraan, serta dipicu oleh minimnya pepohonan pada tebing-tebing curam. Tanah longsor mengakibatkan kerusakan lingkungan seperti kerusakan bangunan, kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, memutus jalur transportasi, krisis air bersih hingga jatuhnya korban.

·         Banjir

Banjir adalah peristiwa terendamnya daratan oleh air yang berlebihan. Banjir mengakibatkan kerusakan mulai dari kerusakan fisik, terkontaminasinya air bersih, membunuh tumbuhan yang tidak tahan air dan hewan, pencemaran lingkungan, penyebaran penyakit, hingga bencana susulan seperti longsor serta jatuhnya korban.

·         Tsunami

Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tsunami dapat diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi di laut, letusan gunung berapi bawah laut, ataupun longsor di dasar laut. Tsunami meninggalkan kerusakan lingkungan di dalam laut maupun di sekitar pantai. Kerusakan-kerusakan tersebut diantaranya adalah rusaknya terumbu karang dan lamun, kerusakan fisik di sekitar pantai, serta jatuhnya korban manusia.

·         Kekeringan

Kekeringan adalah kurangnya pasokan air pada suatu tempat yang berlangsung berkepanjangan dan umumnya terjadi pada musim kemarau. Kekeringan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan berupa kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, menurunnya kualitas tanah, hingga matinya organisme.

Bencana-bencana alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan tersebut, beberapa diantaranya murni karena proses alam. Sehingga terjadinya mutlak dipengaruhi faktor alam tanpa campur tangan manusia. Namun pada beberapa peristiwa alam, sering kali, secara tidak langsung terkait juga dengan aktifitas yang dilakukan manusia. Sebagai contoh bencana banjir dan tanah longsor yang kerap kali menjadi akibat dari aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Begitu pun dengan bencana alam kekeringan yang bisa dipicu aktifitas manusia yang menyebabkan kurangnya air yang terserap sebagai cadangan air di dalam tanah.

2.      Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kemakmuran alam. Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna dapat mengubah dunia yang tadinya sederhana menjadi sangat modern seperti sekarang ini. Akan tetapi, tindakan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran bagaimana dampak-dampak yang ditimbulkan dari perubahan tersebut. Dampaknya bukan hanya positifnya saja, tetapi akan ada dampak negatif yang menyertainya. Karena tujuan utama manusia adalah kepuasan ekonomi.[17] Contohnya saja ditemukannya plastik, dengan adanya plastik barang-barang kita jadi tahan terhadap air dan karena itu semua orang membutuhkan plastik dan juga plastik menjadi barang yang laris dipasaran. Namun, dampak buruknya plastik sulit terurai sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Beberapa kerusakan yang dikarenakan manusia, yaitu :

  • Timbulnya pencemaran air karena pembuangan limbah pabrik,sampah rumah tangga, dan lain-lain ke daerah aliran air.
  • Terjadinya pencemaran udara karena asap-asap kendaraan bermotor dan aktifitas industri.
  • Terjadinya pencemaran suara karena suara-suara kendaraan bermotor, dan suara-suara bising yang mengganggu lainnya.
  • Terjadinya banjir, karena tersumbatnya aliran air, berkurangnya daerah resapan air, dan kesalahan dalam pengaturan aliran air.
  • Terjadinya tanah longsor akibat rusaknya hutan.
  • Berkurangnya jumlah terumbu karang akibat pengeboman dalam mencari hasil laut. Padalah terumbu karang adalah rumah bagi ikan-ikan kecil yang seharusnya kita jaga.
  • Rusaknya hutan bakau.
  • Penggundulan hutan (penebangan pohon secara liar dan tanpa reboisasi).
  • Berkurangnya jumlah hewan yang dilindungi karena perburuan liar.
  • Berkurangnya lebar sungai dan rawa karena ditimbun untuk dibuat pemukiman.


G.    SANKSI UNTUK PERUSAK LINGKUNGAN

 Tindakan yang berpotensi merusak adalah salah satu bentuk penglampauan batas. Sebenarnya bila kita memahami dan menjalankan segala perintah Allah yang tertera di dalam Al-Quran maka kita tidak mungkin melakuakan tindakan yang berpotensi merusak. Sesungguhnya kegiatan yang menimbulkan mudharat itu dilarang agama.  Allah telah mempercayakan menjaga lingkungan disaat para malaikat meragukanya. Maka dari itu hendaknya kita menjalankan perintahnya dengan amanah.

Namun sayang, semakin hari semakin banyak kerusakan alam yang dilakukan manusia. Berbagai kehancuran dan kerusakan terjadi di seluruh penjuru negri hingga mengakibatkan bencana yang menimbulkan korban jiwa. Berbagai kerusakan di darat dan di laut adalah salah satu kejahatan yang dilakukan orang-orang yang berdosa.[18] Bila orang-orang berdosa itu telah bertaubat alangkah damainya dunia. Kekeringan, banjir, rusaknya hutan bakau, dan rusaknya terumbu karang bukan hanya karena faktor alam tetapi juga karena faktor manusia.

Dalam langkah menegakkan nilai-nilai kesadaran lingkungan, Al-Quran telah menegaskan sanksi yang diberikan bagi para perusak. Allah melarang umatnya untuk berbuat kerusakan setelah Allah memperbaikinya.[19] Maksud dari kata memperbaiki di sini adalah dengan mengutus Rasul untuk meluruskan dan memperbaiki kehidupan yang berantakan dalam masyarakat. Siapapun yang tidak menyambut dengan baik kedatangan Rasul dengan tidak mengikuti sunah-sunahnya sama saja dengan merusak alam. Kerusakan ini mencakup kerusakan akhlak yang jauh dari ajaran agama, mengambil hak orang lain, zina, dan lain-lain.

Adapun sanksi terhadap orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi ini telah diatur dalam Al-Quran yaitu dengan dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya dengan bertimbal balik, atau dibuang dari tempat tinggalnya, sedangkan untuk siksa di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang besar.[20] Hukuman tersebut diberikan sebagai bentuk penghinaan di dunia, sehingga orang lain yang bermaksud jahat akan tercegah melakukan hal serupa.[21] Sedangkan di akhiratpun mereka akan mendapat siksaan bila mereka tidak bertaubat dengan sungguh-sungguh.

Sungguh begitu menakutkan siksaan di dunia dan akhirat yang akan di dapat para perusak alam. Tidak tanggung-tanggung Allah menghukum para perusak dengan memotong tangannya bahkan sampai menyuruh membuang perusak dari kediamannya. Untuk itu dimulai dari sekarang kita harus mulai membiasakan diri untuk bersikap ramah lingkungan. Contoh kecilnya bila belum menemukan tempat sampah, simpan dulu sampah tersebut sampai menemukan tempat sampah. Bersyukurlah bahwa hukum itu belum diterpakan di Indonesia. Walaupun di Indonesia belum menerapkan hukum seperti yang di ajarkan Al-Quran, tetapi ada baik nya kita selalu menaati perintah-Nya dengan menjaga dan merawat lingkungan serta yang paling penting tidak merusaknya.

Berkaitan dengan pengelolaan lingkungan, kegiatan ini tidak boleh dilakukan secara eksploratif, yang hanya menguras sumber daya alam dan mencemari lingkungan, karena akan menyebabkan kerusakan lingkungan.

H.    PENUTUP

Manusia sudah ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk menempati bumi dan diberi amanah sebagai khalifah yang bertanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan alam serta dapat mengambil manfaat dari alam. Tetapi seringkali manusia melakukan tindakan tidak bertanggung jawab yang justru merusak alam bukan memakmurkannya. Hal ini terjadi karena kurangnya pendidikan tentang lingkungan dan segala manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia. Sehingga banyak pengetahuan tentang alam yang seharusnya diketahui malah tidak diketahui. Akibatnya, manusia melakukan tindakan yang dapat membahayakan alam.

Pendidikan ekologi yang disertai nilai-nilai Islam sudah sepatutnya dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah terutama untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Karena mereka adalah target potensial untuk menerima wawasan akan pentingnya menjaga alam. Dikemudian hari, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan membawa pemikiran tentang konservasi lingkungan. Pemahaman tentang ekologi yang sesuai nilai-nilai Islam sebaiknya ditanamkan sejak dini karena mengubah pola pikir apalagi perilaku masyarakat adalah sesuatu yang sangat sulit. Dibutuhkan kesabaran dan waktu yang lama dalam upaya mendoktrin masyarakat untuk mengubah kebiasaaan buruknya tersebut.

Manusia memang diberi kelebihan akal daripada makhluk yang lain oleh Allah SWT tetapi ketidaktahuan manusia tentang pentingnya menjaga alam seringkali menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan. Contohnya, manusia yang tidak mengetahui bahwa penggunaan AC dapat merusak lapisan ozon akan menghidupkannya bahkan saat tidak dibutuhkan sekalipun. Karena mereka berpikir bahwa tidak akan ada efek dari tindakan mereka tersebut kecuali membengkaknya biaya listrik.

Oleh karena itu, sangat wajib bagi manusia mengetahui pentingnya melestarikan lingkungan. Setelah mengetahui pentingnya melestarikan lingkungan, bagaimana cara melestarikan lingkungan, manfaat lingkungan bagi manusia, akibat bila tidak melestarikan lingkungan, dan sangsi bagi perusak lingkungan diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan, timbul rasa kepedulian dan rasa simpati pada lingkungan. Sehingga terwujud lingkungan yang asri dan lestari yang membuat semua makhluk yang tinggal di dalamnya nyaman.


DAFTAR PUSTAKA


 Thobroni, Ahmad Yusam. “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits).” 2014 02 (01 Mei): 31.

———. “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits).” 2014 2 (1 Mei): 44.

———. “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits).” 2011 2 (1 Mei): 46.

Suharna,Ano. “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam).” 2016 3 (t.t.): 49.

———. “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam).” 2016 3 (t.t.): 46.

———. “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam).” 2016 3 (t.t.): 58.

Hidayat,Ara. “Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup.” 2015 IV (15 Desember): 377.

———. “Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup.” 2015 IV (Desember 2015): 376.

Wahyudi,Dedi, Tuti Alafiah. “Studi Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam.” 2016 8 (Desember): 257.

Fua, Jumarddin La. “AKTUALISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KESALEHAN EKOLOGIS.” 2014 7 (t.t.): 24.

Albar, Mawi Khusni. “PENDIDIKAN EKOLOGI-SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM: Jawaban terhadap Krisis Kesadaran Ekologis.” 2017 17 (2 November): 437.

———. “PENDIDIKAN EKOLOGI-SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM: Jawaban terhadap Krisis Kesadaran Ekologis.” 2017 17 (2 November): 436.

Murtadha. “ISLAM RAMAH LINGKUNGAN.” 2007 VI (t.t.): 62.

Harahap, Rabiah Z.. “ETIKA ISLAM DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP.” 2015 1 (1 Maret): 7.

Ibrahim,Rustam, A. Mufrod Teguh Mulyo, Lilis Fatimah. “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN.” 2017 21 (2 Desember): 211.

———. “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN.” 2017 21 (Desember): 215.

———. “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN” 21 (2017): 214.

Maliki, Zainuddin. “AGAMA DAN LINGKUNGAN HIDUP Ke Arah Pembentukan Perilaku Etis-Ekologis untuk Mengembangkan Green-Ecology.” 2011 14 (t.t.): 140.

———. “AGAMA DAN LINGKUNGAN HIDUP Ke Arah Pembentukan Perilaku Etis-Ekologis untuk Mengembangkan Green-Ecology.” 2011, t.t., 145.


[1] Ara Hidayat, “Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup,” Desember 2015, 376.

[2] Mawi Khusni Albar, “PENDIDIKAN EKOLOGI-SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM: Jawaban terhadap Krisis Kesadaran Ekologis,” 2 November, 437.

[3] Rustam Ibrahim, A. Mufrod Teguh Mulyo, Lilis Fatimah, “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN,” 2 Desember, 211.

[4] Ahmad Yusam Thobroni, “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits),” 01 Mei, 31.

[5] Ahmad Yusam Thobroni, 31.

[6] Ara Hidayat, “Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup,” 15 Desember, 377.

[7] Rustam Ibrahim, A. Mufrod Teguh Mulyo, Lilis Fatimah, “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN,” 2017, 214.

[8] Ano Suharna, “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam),” t.t., 49.

[9] Dedi Wahyudi dan Tuti Alafiah, “Studi Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam,” 257.

[10] Murtadha, “ISLAM RAMAH LINGKUNGAN,” 62.

[11] Jumarddin La Fua, “AKTUALISASI PENDIDIKAN ISLAM DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP MENUJU KESALEHAN EKOLOGIS,” 24.

[12] Rabiah Z. Harahap, “ETIKA ISLAM DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP,” 7.

[13] Zainuddin Maliki, “AGAMA DAN LINGKUNGAN HIDUP Ke Arah Pembentukan Perilaku Etis-Ekologis untuk Mengembangkan Green-Ecology,” t.t., 140.

[14] Ano Suharna, “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam),” t.t., 46.

[15] Rustam Ibrahim, A. Mufrod Teguh Mulyo, Lilis Fatimah, “KONSEP RAMAH LINGKUNGAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN, HADIS, DAN KITAB KUNING DI PESANTREN,” Desember, 215.

[16] Rustam Ibrahim, A. Mufrod Teguh Mulyo, Lilis Fatimah, 215.

[17] Mawi Khusni Albar, “PENDIDIKAN EKOLOGI-SOSIAL DALAM PRESPEKTIF ISLAM: Jawaban terhadap Krisis Kesadaran Ekologis,” 2 November, 436.

[18] Zainuddin Maliki, “AGAMA DAN LINGKUNGAN HIDUP Ke Arah Pembentukan Perilaku Etis-Ekologis untuk Mengembangkan Green-Ecology,” t.t., 145.

[19] Ano Suharna, “EKO-TARBIYAH PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Revitalisasi Nilai-nilai Lingkungan Melalui Pendidikan Islam),”58.

[20] Ahmad Yusam Thobroni, “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits),” 1 Mei, 44.

[21] Ahmad Yusam Thobroni, “INTERNALISASI NILAI-NILAI KESADARAN LINGKUNGAN MELALUI PENDIDIKAN (Perspektif Al- Quran dan Al-Hadits),” 1 Mei, 46.

Catatan: Makalah ini di buat oleh Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Metro Lampung
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar