Skip to main content

Makalah : Studi Islam di Timur Tengah

Studi Islam di Timur Tengah

Nanda Sarah Sinta
(Kelas A)
Nomor 27
Jurusan Tadris Matematika
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negri (IAIN) Metro
nandasarahshinta@gmail.com


Abstrak 

      Artikel ini membahas tentang pengembangan studi Islam di Wilayah Timur. Tepatnya di wilayah Timur Tengah, di wilayah inilah islam tumbuh dan berkembang. Serta menjadi kekuatan rohani yang sangat mendasar, pada dasarnya masyarakat Arab  pra-islam sudah mempunyai pondasi keyakinan tentang suatu agama, di wilayah Timur tengah islam ini lahir menjadi kekuatan serta menjadi keyakinan yang fundamental bagi masyarakat Timur Tengah saat itu dan sampai dengan saat ini.

Pendahuluan 

Dalam rangka mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan dan pendidikan islam (Studies Islam). Dan ini terhubung dengan kajian yang dapat dimasukan kedalam berbagai dimensi. Secara historis Nabi Muhammad SAW dapat disebut The Founder of Islamic education karena beliaulah penerima wahyu yang pertama dengan ajaran-ajaran dan dengan tatanan yang bersifat urgensi bagi manusia. 

    Dalam konteks masyarakat Timur Tengah, Islam lahir dan berkembang, pendidikan islam merupakan transformasi besar, sebab masyarakat Arab pra-islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan yang bersifat fundamental sebelumnya. Awal perkembangan islam, tentu saja belum terselenggara. Pendidikan islam yang berlangsung dapat dikatakan bersifat informal; dan ini pun lebih terkait dengan upaya dakwa Islamiyah, penyebaran dan pemahaman tentang dasar-dasar akidah dan ibadah dalam islam. Dengan adanya kaitan itu, proses pendidikan islam dapat di pahami mengapa berlangsung di rumah sahabat; yang paling terkenal adalah Dar al-Arqam. Tetapi pada saat masyarakat islam mulai terbentuk, maka pembelajaran islam diselenggarakan dengan sangat tebuka dimasjid. 

      Proses pembelajaran yang kedua  dilakukan ditempat ini dalam halaq dan lingkaran belajar periode selanjutnya dikembangkan menjadi madrasah. Sejak awal wilayah Timur Tengah merupakan wadah lahirnya kemajuan islam, Khususnya dalam bidang pendidikan agama islam, arus modernisasi sulit dimengeti bahwa dengan dasar filosofisnya telah membawa perubahan tersendiri sehingga menjadi semacam kebahagiaan tepenting bagi kehidupan setiap manusia. Perkembangan ini terjadi di wilayah Timur Tengah selama kurun waktu 150 tahun terakhir, dan mempengaruhi kebudayaan serta masyarakat tradisional. Konflik yang berlangsung di tempat kejadian sebagai tanggung jawab dari interaksi antara modernitas dan tradisionalisme masyarakat. Dampak dari agresi kelompok-kelompok tertentu, pemerintah memberikan peningkatan kewaspadaan dengan cara mengambil teknologi barat dan memelopori perlunya modernisasi. 

Akibatnya, kebahagiaan yang esensial  dalam bentuk masyarakat Timur Tengah perubahan dinamis. Pendidikan modernyang masuk ke wilayah ini melalui “pendidikan yang informal” berwujud pada aspek kebudayaan atau dominasi politik. Ia mengasingkan tradisi islam dan mengubahnya menjadi tradisi Barat, mulai dari tingkat dasar sampai jenjang universitas. Pemerintahan di negara islam berfikir dengan cara mengambil alih sistem Barat itu, negara mereka dapat mencapai kemajuan dunia dunia modern. Sejumlah lembaga pendidikan yang baru dibangun telah dapat membuat visi dan misi-nya. Sistem pendidik baru membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi para mahasiswa di lembaga pendidikan tinggi dan universitas-universitas. 

Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan pengembangan studi islam di Timur. Namun demikian, karena terbatasnya ruang dalam tulisan ini untuk membahas masalah studi islam di Timur Tenga, Maka penulis mengambil pengembangan Studi Islam di Timur Tengah. Sebagai kajian karena kawasan ini memiliki tujuan dan struktur pendidikan serta problema serupa dengan yang di hadapi di negara islam lainnya.  


pembahasan 
studi Islam di Timur Tengah


1.Perkembangan Studi Islam di Timur Tengah

       Perkembangan islam di Timur Tengah sangat tergantung pada pola pendekatan normatif dan ideologis islam.  Di jazirah ini agama islam bertitik tolak dari penerimaan sebagai agama wahyu yang bersifat transenden. Islam tidak semata-mata di jadikan sebagai obyek studi ilmiah yang secara leluasa, tunduk pada perinsip-prinsi yang berlaku di dunia keilmuwan, tetapi agam islam di letakkan secara terhormat sesuai dengan kedudukannya sebagai doktrin dan petunjuk bagi suatu kebenaran.

     Dengan demikian, agama islam menjadi bentuk komitmen dan pengabdian. Studi ilmiah di tujukan untuk menambah pengetahuan, mempertebal keyakinan, serta menjadi kemaslahatan bagi kepentingan seluruh umat. Orentasi studi cenderung normatif itu dapat dilihat pada aspek doktrin yang di sertai dengan pendekatan. Disini terbentuk keterkaitan usaha dan mempererat tradisi, stabilitas dan keseragaman pemahaman, sampai pada waktu tertentu, upaya untuk menekankan timbulnya kecenderungan penghafalan. Meskipun demikian pengaruh kebangkitan fundamentalisme di Timur Tengah cenderung tidak dominan, dan berpengaruh pada orientasi pendidikan yang normatif. Pendidikan tinggi di Timur Tengah sangat menekankan aspek pendekatan normatif dan ideologis terhadap Islam, lingkungan  dan pola brfikir mahasiswa tidaklah seragam sebagaimana di bayangkan banyak orang. Sedangkan arus pendekatan normatif terhadap islam sangat kuat dikalangan akademisi perguruan tinggi di Timur Tengah. Tetapi ini bukanlah gambaran selengkapnya, karna cukup kuat pula arus yang menekankan pendekatan historis dan sosiologis yang di pandang liberal. Bahkan, contoh pemikiran liberalisme di lingkungan universitas serta pemikiran dunia umumnya. 

2.Studi Islam di Indonesia Terkait dengan Pola Sintetis Islam di Wilayah Timur Tengah

       Studi Islam yang dikemas di lingkungan Perguruan Tinggi di Indonesia, diajarkan sesuai dengan kebutuhannya. Namun demikian, dilihat dari perkembangan yang terjadi di Universitas Islam Negri (UIN), Institut Agama Islam Negri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negri (STAIN) menunjukan adanya kecenderungan berorientasi ke Barat, ini dapat dilihat dari semakin besarnya jumlah mahasiswa yang dikirim ke universitas-uiversitas yang berada di Barat. Hal ini berbeda dengan orientasi studi Islam di Perguruan Tinggi pada umumnya-sebagai mata kuliah-cenderung masih bersifat normatif.

      Perkembangan pelajaran agama Islam di era tahun 80-an dan 90-an terjadi perubahan besar dalam paradigma di kampu-kampus yang ada di Indonesia, pergeseran ini lebih bersifat normatif sosiologis dan empiris. Sehingga menghasilkan pandangan yang lebih bersifat idealistic. Dalam pandangan dan perkembangannya banyak sebagian muslimin sering melupakan keniscayaan realitas dan lebih bersifat mementingkan kepuasan batin dari pada menggali perkembangan itu sendiri. 

     Pada era sekarang ini pada umumnya pola pikir mahasiswa cenderung melakukan pendekatan secara historis dan sosiologis sehingga membuka mata kaum pelajar (Mahasiswa) tentang perubahan dan orientasi keilmuan yang lebih luas. Pada masa sebelumnya para mahasiswa cenderung berorientasi ke universitas-universitas yang ada di Timur Tengah antara lain Universitas Al-Azhar, tetapi pada era sekarang ini sudah begitu luas terbuka bukan hanya di daerah Timur Tengah dan di Universitas Al-Azhar saja, tetapi sudah menjadi perpaduan pola pikir Barat dan pola pikir Timur Tengah. Agama Islam di tinjau dari pola pikir Barat ataupun Timur Tengah tidak mengurangi kemuliaan dan kesuciannya, karena semua pondasi berfikirnya berawal dari Al-Quran dan Hadist.

      Pola perkembangan dan pembelajaran Islam di Universitas seperti hal-nya UIN, IAIN, STAIN, dll menjadi perpaduan pola pembelajaran antar Timur dan Barat. Saat ini pola pendekaan dan pelajaran menemukan momentumnya dengan kembalinya sejumlah mahasiswa yang telah menyelesaikan studi-nya di Universitas-universitas yang ada di Barat. Kendatipun demikian studi Islam di Indonesia  dalam hal doctrinal tetap berorientasi ke wilayah Timur Tengah. studi di Timur Tengah sangat menekankan pendekatan Normatif dan ideologi terhadap islam. Kajian Islam di Timur bertitik tolak daripenerimaan terhadap Islam sebagai agama wahyu yang bersifat transenden. Islam tidaklah dijadikan semata-mata sebagai objek studi ilmiah yang secara leluasa di tundukkan pada prinsip-prinsip yang berlaku di dunia keilmuwan, tetapi diletakkan secara terhormat sesuai dengan kedudukannya sebagai doktrin yang kebenarannya diyakini tanpa keraguan. Dengan demikian, sikap ilmiah yang terbentuk adalah komitmen dan penghargaan. Usaha-usaha studi ilmiah ditujukan untuk memperluas pemahaman, memperdalam keyakinan dan menarik maslahatnya bagi kepentingan umat. 
     
     Orientasi studi di Timur lebih menekankan pada aspek doktrin disertai dengan pendekatan yang cenderung normatif. Keterkaitan pada usaha untuk memelihara kesinambungan tradisi dan menjamin stabilias serta keseragaman bentuk pemahaman, sampai batas tertentu, menimbulkan kecenderungan untuk menekankan upaya penghafalan daripada mengembangkan kritisisme. Meskipun kecenderungan ini tidak mendominasi, namun pengaruh kebangkitan fundamentalisme di Timur Tengah telah mempengaruhi orientasi pendidikannya yang lebih normatif. Pemahaman sejarah agama-agama hampir semua berangkat dari fenomena historis dan empiris serta budaya yang bersifat turun menurun sehingga menjadi manefestasi pengalaman masyarakat agama. Penggambaran ini di klaim sebagai suatu keimanan atau nilai dasar agama sehingga  penganutnya cenderung menjadi fanatisme yang tak terbatas. Kebenaran di hayati oleh pemeluk agama sesuai dengan tingkat pemahaman atau ketebalan keimanan masing-masing individu yang bersifat langsung kepada sang pencipta (hablum minallah). 

3.Sejarah Pendidikan Agama Islam Di Indonesia Mengenal Pendidikan Di Kawasan Internasional

     Sejarah agama perkembangannya lebih banyak diterima atau lebih dominan melalui pendekatan historis dan kajian-kajian yang mendalam tentang al-quran dan hadist sebagai fondasi dari agama islam. Adapun perkembangan islam dibelahan Barat itu dapat diterima melalui perpaduan antara kajian-kajian Al-Quran, Hadist, historis dan pembuktian serta logika yang dapat diterima oleh para pemikir dan filosofi Barat. Perkembangan islam di Amerika diawali oleh sarjana semacam D.B. Macdonald (1863-1943) dan H.A.R. Gibb. Keduanya mengingatkan akan bahayanya mengkaji  dengan islam normative, yang mengabaikan islam di masyarakat umum. Pemikiran ini mendapat apresiasi dari Universitas-universitas Amerika. Sejak tahun 1950-an pengembangan studi kawasan (area studies) mulai berkembang dengan mencakup kedisiplinan, dan memperoleh pendidikan Bahasa serta kebudayaan Islam di Wilayah tertentu. Metode pembelajaran islam di Barat di pelopori oleh para sarjana-sarjana itu sendiri bahkan tidak jarang citra yang di bangun oleh sarjana-sarjana islam itu terlihat lebih adil dan bijak dalam pradaban dan perkembangan islam saat ini di dunia Barat. 

      Ilmu pengetahuan pada masa kini berkembang dengan adanya kesadaran dan kemauan untuk penelitian yang lebih baik. Pendidikan islam menjadi landasannya. Bersandar dengan landasan keislaman maka, lahirlah penemu-penemu serta tokoh-tokoh di bidang keilmuan. Dengan demikian, banyak ilmuwan Barat yang menjadikan keislaman sebagai acuannya untuk berkembang. 

       Pada masa pemerintahan Abbasiyah atau dapat disebut masa keemasan, studi islam di pusatkan di Baghdad, Bait Al-Hikmah. Sedangkan Pada masa pemerintahan Abdurrahman III yang bergelar Al-Dahil dipusatkan di Universitas Cordava di Sepanyol. Dari kalangan Syi’ah yang di dirikan oleh Dinasti Fathimiyah berpusat di Universitas Al-Azar di Mesir. Hampir di seluruh penjuru negara di dunia sekarang Studi islam berkembang. 

     Di Indonesia-pun sudah banyak Perguruan Tinggi yang berkembang baik itu Negri Mau pun Swasta. Pembelajaran Agama Islam di Negara non-muslim hanya di lakukan oleh beberapa Negara, Antara Lain India, Chicago, Los Angel, London, dan Kanada. Di Aligarch University India, Studi Islam di bagi mnjadi dua: Islam sebagai doktrin di kaji di Fakultas Ushuluddin yang mempunyai dua jurusan, yaitu Jurusan Madzhab Ahli Sunnah dan Jurusan Madzhab Syi’ah. Sedangkan Islam dari Aspek sejarah di kaji di Fakultas Humaniora dalam jurusan Islamic Studies. Di Jami’ah Millia Islamia, New Delhi, Islamic Studies Program di kaji di Fakultas Humaniora yang membawahi juga Arabic Studies, Persian Studies, dan Political Science. Di Chicago, Kajian Islam diselenggarakan di Chicago University. Secara organisatoris, studi Islam berada di bawah Pusat Studi Timur Tengah dan Jurusan Bahasa, dan Kebudayaan Timur Dekat. Dilembaga ini, kajian Islam lebih mengutamakan kajian tentang pemikiran Islam, Bahasa Arab, naskah-naskah klasik, dan bahasa-bahasa non-Arab. Di Amerika, studi Islam pada umumnya mengutamakan studi sejarah Islam,bahasa -bahasa Islam selain bahasa Arab, sastra dan ilmu-ilmusosial.

4. Imajinasi Tentang Timur

      Sarjanadi Wilayah Barat di dominasi tidak terlalu simpatik terhadap Wilayah Timur, karena mereka belum lama memperlajari Timur, karena penuh dengan stereotip-stereotip rasial, ideologis dan imperialis. Edward Said beranggapan gagalnya orientalisme pada era kolonial sebagai kegagalan intelektual dan kemanusiaan. Menurut Edward, Orientalisme mengingatkan akan degradasi yang menyelewengkanilmu pengetahuan, orientasi merupakan struktur ide pikiran yang terorganisir, seperti pola untuk membuat generasi tertentu tentang belahan dunia lain yang di sebut “Timur”. 

       Dengan Kata lain, Edward, yakin bahwa ada otoritas epistemologis dan dorongan intelektual yang mengantarkan Barat menginjakkan kaki imperialismenya di negara-negara Timur. Singkatnya, demikian Edward , orientalisme berhasil menjadi satu kesatuan jarigan yang tak terelakan kepentingannya dengan entitas tertentu “Dunia Timur” sebagai pokok kajiannya. Terminologi orientalisme digagas edward menantang definisi Barat terhadap Orientalisme itu sendir. Orientalisme mengesankan ada perbedaan antara Timur dan Barat; Timur (Orient) adalah bagian belahan bumi dan manusia-manusia yang tidak beradab, sedangkan Barat (occident) berkebalikan dari padanya, yaitu sebuah wilayah bagian dunia yang memiliki pradaban.

    Orientalisme digunakan untuk mendefiniskan “siapa Mereka”. Permasalahan utama yang dimbulkan di orientalisme, barangkali dalam pengamatan edward, adalah ketika Barat mulai menggeneralisasi asumsi-asumsi mereka tentang Timur, lalu menggambarkan karakteristik “buatan” tentang timur itu ke dalam dunia barat melalui laporan yang bersifat ilmiyah, karya sastra, dan sumber-sumber lainnya. Pandangan Barat yang sepihak terhadap Timur ini ditakutkan membuat bangsa Barat memiliki sikap antagonistik terhadap Timur. Dan ini barangkali apa yang ingin diungkap oleh Said melalui bukunya tersebut, bahwa ada stereotip-stereotip negatif yang dihasilkan pembacaan Barat terhadap Timur. 

      Dampak paling radikal barangkali akan berimbas kepada agama yang mendominasi di belahan bumi Timur Tengah, Islam, yang dilihat sebagai agama teroris, barbar, dan memiliki penganut yang tidak beradab.  Said memang membuat dunia tahu bahwa klaim-klaim ilmiah dibalik studi tentang Timur menyembunyikan agenda-agenda politis yang destruktif yang menghantarkan Eropa menjajah dunia-dunia Timur. Ilmu pengetahuan dijadikan alat untuk menjustifikasi, memberikan informasi dan memetakan Timur begitu rupa untuk kepentingan Barat. 

       Orientalisme dipandang sebagai sisi buruk dan kelam bagi dunia intelektual dan gerakan ilmiah, menjadi pengingat bahwa ada sistem-sistem pemikiran dan wacana kekuasaan yang sengaja diterapkan, mungkin tidak saja hanya dulu, tapi juga sekarang dan di masa depan.Pembelajaran agama islam di pelajari tidak hanya di negara mayoritas agama islam saja, namun di negara minoritas pun mempelajarin tentang agama islam seperti negara India, Chicago, Los Angeles, London dan Kanada. Di Universiy India. 

      Pembelajaran islam awalnya dilakukan oleh para ilmuwan Barat untuk meneliti ajaran islam melalui pembelajaran orientasi. Ada beberapa alasan tentang perkembangan disiplin ilmu ini, antaranya di karenakan hubungan Islamic studies dengan study orientaslisme yang di pelopori oleh para ilmuwan Barat dan di dukung oleh pemerintah Barat pada era kolnialisme Barat dan Timur untuk menaklukkan Timur, penguasa kolonial mempelajari agama dan budaya Ketimuran serta mempererat kekuasaan negara Timur khusus nya Bangsa Asia. Pada abad 20 muncul tokoh-tokoh yang terkenal dalam orientasi studi yang mengaji berbagai aspek. Tokoh agama dan sejarah Islam yang menjadi pemimpin utama jurnal revues des etudes islamiquen adalah Louismassignon (1883-1962). Kajian tersebut selanjutnya mulai berkibar menjadi studi kawasan  (Area Studies), yang populer setelah perang dunia ke-II. Dan menjadi instrumen penting dalam studies grientalisme, nmun demikian philologis tetap mendominasi kawasan tersebut.  

        Setelah terjadinya peran dunia ke-2, mulai bermunculan kajian di Wilayah Timur Tengah yang memberi dampak ilmu sosial yang dinamis, dengan maksud agar dapat mempermudah perubahan orientalisme topi akademis. Tokoh yang mempelopori proses ini antara lain Ira M.Lapidusyamg berjudul " A History of Islamic Societies" (1998), Bernard Lewis; salah satu karyanya yang berjudul "The Islamic World" (1989) dan "The Political language of Islam" (1988,Gustav von grunebaum dengan judul "Modern Islam" (1990-1991), Philips K. Hitti (1886-1974) dan Giorgio Levi Dela Vida (1886-1967). Ilmu pengetahuan ada karena dipengaruhi oleh sejarah filologisnya, akibat terjadinya lembaga, intelektual, dan politik orientalisme revolusi. Permasalahan ini bukan hanya berdampak pada kajian islam saja namun berdampak pula pada perang dunia ketiga. Pada perang dunia ke II Amerika  mulai mengambil langkah untuk melatih keterampilan dan pengetahuan mengenai bahasa dan kebudayaan dari lawan nya. Langkah ini merupakan awah dari setelah terjadinya perang dunia ke II untuk terus melanjutkan pengaruhnya keseluru penjuru dunia, terutama dunia ke III. 

       Perkembangan sebelum ini orientalisme sebagai kajian objek yang memakai metodenya sendiri, namun setelah perubahan selanjutnya, orientalisme menjadi obyek suatu kajian. Banyak tanggapan dari gerakan tersebut, dan para ilmuwan baik dari kalangan Islam ataupun Barat menyampaikan kritik terhadap orientalisme. Salah satu kritik tersebut Anwar Adel Malek Orientalism in Crisis 1963 mengatakan  bahwa " perla adanya revisi tentang Kemerdekaan paska Perang Dunia Ke II menghasilkan krisis pada Orientalism". 

       Pembelajaran tentang kawasan timur menjadi pembahasan menarik untuk lingkungan pendidikan diwilayah Barat, karena wilayahTimur sebagai contoh perwakilan dari kawasan geografis yang memiliki ciri tersendiri, sehingga setiap pelajar yang melakukan pembelajaran dikawasan tersebut diperlakukan dengan amat baik. Tujuan mereka untuk mempelajari tentang kawasan Timur karena pada saat mereka bekerja dalam orientasi yang menuntut untuk menyajikan citra Ketimuran mereka sudah mengetahui bagaimana cara memperlakukannya. Menurut Edward W. Said menjelaskan secara umum tentang beberapa fakta Representasi: 

1) Representasi Timur mulai memperlihatkan adanya jejak. 
2) hanya masyarakat Timur yang mampu menjelaskan konsep mengenai Wilayah Timur. 
3)Masyarakat Timur Yang dapat memberikan keperluan dalam wacana tersebut. 
4) hanya masyarakat pri-Bumi yang mengetahui segala sesuatu mengenai tuntutan-tuntutan yang ada di wilayah Timur, seperti budaya profesional, masalah politik ekonomi pada saat itu. 

     Orientasi studi ketimuran tidak hanya bertitik pada satu pembelajaran bahasa Timur, tetapi ternyata studi Ketimuran juga melakukan studi terhadap agama islam, bukan hanya terhadap agama islam saja bangsa Timur pun melakukan pembelajaran terhadap agama lain seperti Budha dan Hindu, serta agama primitif bangsa Asia dan Eropa. Islamic Studies semakin berkembang dan mulai melibatkan berbagai cendekiawan dari berbagai kalangan.

       Awalnya objek Islamic Studies mayoritas hanya kalangan cendekiawan dari Barat (Eropa dan Amerika Serikat), namun seiring berjalannya waktu perkembangan tidak hanya untuk bangsa barat namun warga negara Jepang, Afrika Yang menjadi pakar Islamic Studie. 

       Metode dan Pendekatan Sejarah dalam Studi Islam Jika disepakati bahwa Studi Islam(Islamic Studies)menjadi disiplinilmu tersendiri. Maka telebih dahulu harus di bedakan antarakenyataan, pengetahuan, dan ilmu.Setidaknya ada dua kenyataan yang dijumpai dalam hidup ini. Pertama, kenyataan yang disepakati(agreed reality),yaitu segala sesuatu yang dianggap nyata karena kita bersepakat menetapkannya sebagai kenyataan; kenyataan yang dialami orang lain dan kita akui sebagai kenyataan. Kedua, kenyataan yang didasarkan atas pengalaman kita sendiri (experienced reality). 

      Berdasarkan adanya dua jenis kenyataan itu, pegetahuan pun terbagi menjadi dua macam; pengetahuan yang diperoleh melalui persetujuan dan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung atau observasi. Pengetahuan pertama diperoleh dengan cara mempercayai apa yang dikatakan orang lain karena kita tidak belajar segala sesuatu melalui pengalaman kita sendiri.7 Bagaimanapun beragamnya pengetahuan, tetapi ada satu hal yang mesti diingat, bahwa setiap tipe pengetahuan mengajukan tuntutan(claim)agar orang membangun apa yang diketahuimenjadi sesuatu yangsahih (valid)atau benar(true). 

         Kesahihan pengetahuan benyak bergantung pada sumbernya. Adadua sumber pengetahuan yang kita peroleh melalui agreement: tradisi dan autoritas. Sumber tradisi adalah pengetahuan yang diperoleh melalui warisan atau transmisi dari generasi ke generasi(al-tawatur). Sumber pengetahuan kedua adalah autoritas (authority), yaitu pengetahuan yang dihasilkan melalui penemuan-penemuan baru oleh mereka yang mempunyai wewenang dan keahlian di bidangnya. 

       Penerimaan autoritas sebagai pengetahuan bergantung pada status orang yang menemukannya atau menyampaikannya. Berbeda dengan pengetahuan, ilmu dalam arti science menawarkan dua bentuk pendekatan terhadap kenyataan(reality), baikagreed realitymaupunexperienced reality, melalui penalaran personal, yaitu pendekatan khusus untuk menemukan kenyataan itu. Ilmu menawarkan pendekatan khusus yang disebutmetodologi,yaituilmu untuk mengetahui. Metode terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah metode ilmiah (scientific method).

        Untuk memahami metode ini terlebih dahulu harus dipahami pengertian ilmu. Ilmu dalam arti science dapat dibedakan dengan ilmu dalam arti pengetahuan(knowledge).Ilmu adalah pengetahuan yang sistematik. Ilmu mengawali penjelajahannya dari pengalaman manusia dan berhenti pada batas penglaman itu. Ilmu dalam pengertian ini tidak mempelajari ihwal surga maupun neraka karena keduanya berada diluar jangkauan pengalaman manusia. 
        
          Demikian juga mengenai keadaan sebelum dan sesudah mati, tidak menjadi obyek penjelajahan ilmu. Hal-hal seperti ini menjadi kajian agama. Namun demikian, pengetahuan agama yang telah tersusunsecara sistematik, terstruktur, dan berdisiplin, dapat juga dinyatakan sebagai ilmu agama. Menurut Ibnu Taimiyyah ilmu apapun mempunyai dua macam sifat: tabi’ dan matbu’. Ilmu yang mempunyai sifat yang pertama ialah ilmu yang keberadaan obyeknya tidak memerlukan pengetahuan si subyeknya tentang keberadaan obyek tersebut. 

         Sifat ilmu yang kedua, ialah ilmu yang keberadaan obyeknya bergantung pada pengetahuan dan keinginan si subyek. Berdasarkan teori ilmu di atas, ilmu di bagi kepada dua cabang besar. Pertama ilmu tentang Tuhan, dan kedua ilmu tentang makhluk-makhluk ciptaan Tuhan. 

        Ilmu pertama melahirkan ilmu kalam atau teology, dan ilmu kedua melahirkan ilmu-ilmu tafsir, hadits, fiqh, dan metodologi dalam arti umum. Ilmu-ilmu kealaman dengan menggunakan metode ilmiah termasuk kedalam cabang ilmu kedua ilmu ini. Ilmu pada kategori kedua, menurut Ibnu Taimiyyah dapat dipersamakan dengan ilmu menurut pengertian para pakar ilmu modern, yakni ilmu yang didasarkan atas prosedur metode ilmiah dan kaidah-kaidahnya.

        Yang dimaksud metode di sini adalah cara mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah yang sistematik. Sedangkan kajian mengenai kaidah-kaidah dalam metode tersebut disebut metodologi. Dengan demikian metode ilmiah sering dikenal sebagai proseslogicohipotetico-verifikasiyang merupakan gabungan dari metode deduktif dan induktif. Dalam kontek inilah ilmu agama dalam Studi Islam(Islamic Studies)yang menjadi disiplin ilmu tersendiri, harus dipelajari dengan menggunakan prosedur ilmiah. Yakni harus menggunakanmetode dan pendekatan yang sistematis, terukur menurut syarat-syarat ilmiah. Dalam studi Islam dikenal adanya beberapa metode yang dipergunakan yang dimilikinya. 

       Sebaliknya mereka yang tidak menguasai metode hanya akan menjadi konsumen ilmu, dan bukan menjadi produsen. Oleh karenanya disadari bahwa kemampuan dalam menguasai materi keilmuan tertentu perlu diimbangi dengan kemampuan di bidang metodologi sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat dikembangkan. Pendekatan Sejarah dalam Studi Islam Diantara metode studi Islam yang pernah ada dalam sejarah, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya. Dengan cara yang demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang obyektif dan utuh. Kedua metode sintesis, yaitu suatu caramemahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, obyektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normative.

     Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang nampak dalam kenyataan histories, empiris, dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normative digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normative ini seseorang memulainya dari meyakini Islam sebagai agama agama yang mutlak benar. Hal ini di dasarkan kerena agama berasal dari Tuhan, dan apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agamapun mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakiniamat ideal. 

        Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam itu suatu saat mungkin dpandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan adanya pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Dalam konteks penelitian, pendekatan-pendekatan (approaches)ini tentu saja mengandung arti satuan dari teori, metode, dan teknik penelitian. 

    Terdapat banyak pendekatan yang digunakan dalam memahami agama. Diantaranya adalah pendekatan teologis normative, antropologis, sosiologis, psikologis, histories, kebudayaan, dan pendekatan filodofis. Adapun pendekatan yang dimaksud di sini (bukan dalam konteks penelitian), adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam satu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat, menandasakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. 

     Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmusosial, penelitian filosofis, atau penelitian legalistic.9 Mengenai banyaknya pendekatan ini, penulis tidak akan menguraikan secara keseluruhan pendekatan yang ada, melaikan hanya pendekatan historis sesuai dengan judul di atas, yakni pendekatan histories. Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsure tempat, waktu, obyek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini segala peristiwa dapat dilacak dengan melihatkapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Melalui pendekatan sejarah seorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. 

     Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan histories. Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena gama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosialkemasyarakatan. 

       Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari al-Qur’an ia sampai pada satu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan al-Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan. 

       Dalam bagian pertama yang berisi konsep ini kita mendapati banyak sekaliistilah al -Qur’an yang merujuk kepada pengertian-pengertian normative yang khusus,doktrin -doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Istilah-istilah atau singkatnya pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab pada waktu alQur’an, atau bias jadi merupakan istilah-istilah baru yang dibentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep relegius yang ingin diperkenalkannya. Yang jelas istilah itu kemudian dintegrasikan ke dalam pandangan dunia al-Qur’an, dan dengan demikian, lalu menjadi onsep-konsep yang otentik.

      Dalam bagian pertama ini, kita mengenal banyak sekali konsep baik yang bersifat abstrak maupun konkret. Konsep tentang Allah, Malaikat, Akherat, ma’ruf, munkar, dan sebagainya adalah termasuk yang abstrak. Sedangkan konsep tentang fuqara’, masakin, termasuk yang konkret. Selanjutnya, jika pada bagian yang berisi konsep, al-Qur’an bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai Islam, maka pada bagian yang kedua yang berisi kisah dan perumpamaan, al-Qur’an ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah.11Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. 

       Dari sini maka seseorag tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya. Seseorang yang ingin memahami al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan harus memahami sejarah turunnya al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya al-Qur’an yang selanjutnya disebut dengan ilmu asbab al-nuzul yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat al-Qur’an. Dengan ilmu ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkadung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hokum tertentu, dan ditujukan untuk memelihara syari’atdari kekeliruan memahaminya.  

Pada umumnya obyektifitas Orientalis jelas mempunyai tujuan yang lebih bersifatmisionaris, kita mengetahui tujuan dari pada misionaris adalah mengkristenisasi dan mengglobalisasi kristen, tetapi sesuai dengan perkembangan jaman pola-pola seperti itu secara alami sudah mulai berubah karena pola berfikir seseorang sudah mulai objektif sesuai dengan perkembangan keilmuan bahwa manusia pada umumnya memulai sesuatu berdasarkan naluri ketuhanannya. 

       Kelompok ini memandang Islam dengan pandangan yang leibh obyektif dan ada kecenderungan untuk condong kepada Islam. Dengan demikian kelompok-kelompok yang ada di Eropa sudah mulai tidak sejalan dengan kebijkan-kebijakan gereja, kondisi ini secara gradual telah merubah kelompok-kelompok kristen yang semula berfikiran fundamentalis kristen ortodok berubah menjadi kelompok-kelompok yang beraliran Liberalisme Keagamaan.Ada sebagian kelompok-kelompok yang terus menerus berusaha menjadikan sebuah misi keagamaan memasukannya dalam agenda politik kenegaraan. Kelompok ini dinamai revisionis yang di kembangkan oleh Louis Massignonyang berorientasi menjadikan benua Afrika dan Prancis menjadi Basic kekuatan revisionis. 

       Tetapi ternyata muncul juga kelompok revisionist di luar Prancis yang saat itu di gerakan oleh Marshal G. Hodgson dan Wilfrend Cantwell Smith, mereka membuat suatu metode pembelajaran yang di masukan kedalam kurikulum disebuah Institute of Islamic Studies, McGill University mereka membuat satu metode tentang pernyataan orang lain atau non-muslim yang menyatakan bahwa agama Islam baru di anggap benar apabisa dapat diterima oleh penganut islam itu sendiri. Mereka berpendapat bahwa agama Islam hanya dapat di pahami oleh penganut agama Islam itu sendiri.

      Dengan Upaya penghancuran agama Islam di Timur dan Barat mereka terus menerus berupaya mempengaruhi kebenaran agama islam dan mempengeruh memutar balikan fakta dengan berbagai upaya agar agama Islam tidak dapat berkembang di daerah Timur dan Barat.Kemajemukan agama-agama yang ada di dunia baik itu yang bersifat Ortodok atau Tradisionalisme tidak mengurangi upaya-upaya mereka memerangi Islam, mereka beranggapan Islam bukan merupakan suatu agama melainkan suatu aliran yang lebih bersifat Teroris dan kekerasan sehingga mereka membuat merekayasa suatu aliran yang dipersamakan atau di sama-samakan dengan agama Islam yang haqiqi. Keadaan ini justru menjadikan umat Islam untuk lebih berupaya lebih bersifat agresif dan mempertahankan diri dari pola-pola yang di ciptakan oleh kelompok-kelompok anti Islam.

Islam yang moderat memiliki nilai universalyang lebih dapat di terima dan bersifat fundamental, serta sebagai agama Islam Lebih merupakan Rahmat dan karunia bagi semua makhluk. Berbagai upaya dan berbagai teori, berusaha untuk menghancurkn agama Islam akan tetapi sebagai suatu rahmat dan karunia Islam tetap terjaga dengan berpedoman dan berpegang pada Al-Qur’an dan Hadist.

       Adanya perbedaan Islam di berbagai belahan dunia dengan corak dan uniknya itu tidak lepas dari budaya dan kultur negara itu sendiri seperti Islam yang ada di Prancis, Islam Balkan, Maghrib, Al-Jazair, dan sebagainya, tetapi semua itu tidak lepas dari fondasinya, yaitu Al-Qur’an dan Hadist.Wawasan dan pola pikir umat islam terus berkembang dan berorientasi pada kemajuan dan keutuhan keumatan. Bangsa-bangsa di eropa merasa terusik dengan lahirnya Eropa Sentries dan pada akhirnya berupaya pula memecah belah dan mengadu domba sesama Islam itu Sendiri dengan lahirnya berbagai sekte yang beraroma seolah-olah Islam. 

       Kemudian mereka terus berupaya melahirkan sekte sekte baru yang di persamakan dengan dan seolah-olah inilah islam yang sesungguhnya, yang sebenarnya islam buatan mereka jelas jauh berbeda dengan Islam yang haqiqi yang berpedoman pada Al-Quran dan Hadist. Adapun sisi positif Orientalisme untuk membuka wawasan umat Islam, sehingga umat islam tidak lagi gagal faham dalam mengartikan ajaran Islam. Dengan demikian antara Barat dan Timur tidak lagi saling mendominasi.

     Meskipun demikian, Orientalisme dapat memiliki kredibilitasnya manakalanya Orientalisme modern menolak Eropa sentries, tidak lagi ada saling mendominasi antara Barat dan Timur. Tidak ada lagi peradaban  tipologis dengan peradaban-peradaban tradisional manakala orientalis yang jujur berusaha menjelaskan orientalis yang jujur berusaha menjelaskan karakteristik kebudayaan bangsa tersebut dan hasil-hasil kreatifitasnya disepanjang zaman, manakala ia berssikap adil dan proporsional di dalam menulis sejarah kemausiaan. 

      Orientalis yang bebas dari rasisme yang terpendaam dalam kesadaran Eropa yang paling dalam dapat memulai orientalisme dengan mengkritik Barat hingga ia dapat membebaskan dirinya dari Barat, kerangka-kerangkanya, konsep-konsepnya, dan pandangan-pandangannya terhadap dunia, dapat memberikan sumbangan di dalam mengembalikannya ke batas-batas yang wajar dan mengafirmasi historisitasnya. Setelah itu baru ia mengkaji bangsa-bangsa di luar Eropa dan kebudayaan-kebudayaannya dengan pikiran yang bebas, metode yang murni bersumber daro permasalahan itu sendiri yang menyatu dengannya tanpa menghegemoni. Inilah yang menjadi cek keberhasilan orientalisme. Itulah bukti akan keberhasilan yang memungkinkannya mendapakan kredibilitas baru. 

       Orientalis juga dapat memulai kajian-kajian tanpa menilai adanya priori dan sedapat mungkin indenpenden. Pada saat yang sama ia harus menyadari bahwa setiap peradaban memiliki keunikannya sendiri. Setiap kebudayaan memiliki strukturnya. Ilmu pengetahuan, kebaangkitan, kemajuan, rasionalitas, humannisme, kebebasan, dan kontrak sosial bukan monopoli satu kebudayaan tertentu, bukan kreasi peradaabaan Eropa  semata, tetapi ada di semua peradaban dalam bentuknya yang berbeda-beda, dalam situasi yang berbeda, dengan bahasa yang lain. Makanya, Hasan dan Hanafi kemudian menawarkan adanya gerakan yang disebut dengan osidentalisme. Ia diartikan sebagai upaya mempelajari Barat secara obyektif, sehingga nampak kelebihan dan kekurangannya. Dengan gerakan seperti ini akan menjadi seimbang antara Barat dan Timur. Barat mengetahui Timur dan Timur pun mengenal Barat. Semua dalam kerangka obyektifitas.
     Orientalis memandang Islam dengan segala aspeknya dengan pandangan bimbang dan sangsi mengenai kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya. Sebenarnya kalau ia benar-benar masih ragu tentang jiwa nabi Muhammad, waras atau tidak, mengapa ia bersusah payah dan menghabiskan umurnya untuk menyelidiki agama yang lain dibawa oleh orang yang diragukan warasnya. 

        Suatu hal yang patut disyukuri bahwa dalam Islam tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an dan tidak ada seorangpun ulama yang mendeskriminasi agama lain, karena  agama Islam adalah agama yang toleran terhadap agama lain. 

KESIMPULAN

       Perkembangan Islam di Timur Tengah sangat tergantung pada pola pendekatan Normatif dan Ideologis Islam. Dengan demikian, agama Islam menjadi bentuk komitmen  dan pengabdian. Studi Ilmiah di tujukan untuk menambah pengetahuan, mempertebal keyakinan, serta menjadi kemaslahatan bagi kepentingan seluruh umat. Namun dapat dilihat dari perkembangan yang terjadi di Universitas Islam Negri (UIN), Institut Agama Islam Negri (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negri (STAIN) menjunjukan adanya kecenderungan berorientasi ke Barat, ini dapat dilihat dari semkin besarnya jumlah mahasiswa yang di kirim ke Universitas-universitas yang berada di Barat. 

Daftar Pusaka

  • Abidin, Zainal. “Islamic stdies dalam konteks global dan perkembangannya di Indonesia” 20 (2015): 74–75.
  • hamdani, moh. Salaman. “john Louis esposito tentang dialog peradaban Islam-Barat” 7 (2013).
  • Haqan, Arina. “Orientalisme Dan Islam Dalam Pergulatan Sejarah” 1 (2011).
  • Ihsan, Muhammad. “Pendidikan Islam Dan Modernitas di Timur Tengah: Studi Kasus Mesir” 04 (2007): 130–31.
  • Irfanullah, Gumillar. “Orientalisme Romantis: Imajinasi Tentang Timur Sebelum Edward Said” 11 (2015).
  • Mawardi, Imam. “Perbandingan Model Pendekatan Studi Islam di Timur Tengah dan Barat.” 9 (2012): 67–68.
  • Rokhzi, Mokh. Fatkhur. “Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam” 3 (2015).
  • Setiawan, Barza, dan Mahmud Muhsinin. “Studi Krisis Tentang Orientalisme” 2 (2016).
  • wahyudi, dedi, dan Rahayu Fitri As. “Islam Dan Dialog Antar Kebudayaan  (Studi Dinamika Islam Di  Dunia Barat)” 1 (2016): 277.
  • Zada, Khamami. “Orientasi Studi Islam di Indonesia: Mengenal Pendidikan Kelas Internasional di Lingkungan PTAI.” 02 (2006): 6–7.
  • https://www.academia.edu/6434347/Studi_Islam_di_Timur_Tengah
  • https://www.academia.edu/36514379/Sudi_Islam_di_Timur_Tengah_Studi_Islam_di_Timur


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar