MGBdMqV8LGF6NqN4LGJ4NqR6MCMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Pengelompokan Keilmuan Dalam Islam Perspektif Burhani

Pengelompokan Keilmuan Dalam Islam Perspektif Burhani 

PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan yang sampai detik ini menjadi titik yang sangat mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia dan kemajuan kemajuan yang akan diraih oleh umat manusia, itupun manusia tidak mendapatkannya dengan mudah dan tidak ada begitu saja, dengan cara dinamika atau diskursus ilmiah serta usaha yang telah  mendampingi kemajuan yang telah diraih. Langkah-langkah untuk memperoleh ilmu pengetahuan biasanya disebut sebagai epistemologis.

Epistemologi ialah gabungan  dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu pertama  kata episteme memiliki arti pengetahuan serta  yang kedua dari kata Logos  yang memiliki arti pengetahuan atau ilmu. Dengan menggabungkan pengertian dari kata pertama dan ked ua tersebut, etimologis mempunyai pengertian sebagai pengetahuan tentang pengetahuan.

Ahmad Tafsir menjelaskan epistemologi yaitu mengkaji ilmu pengetahuan serta tentang bagaimana langkah mendapatkan ilmu pengetahuan. Bidang epistemologis tersebut menduduki tempat yang sangat signifikan, karena epistemologis membahas tentang langkah supaya memperoleh pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang signifikan serta benar didalam memperoleh ilmu pengetahuan berhubungan kuat dengan hasil yang akan dicapainya yaitu sebuah ilmu pengetahuan. Setelah hasilnya dicapai kepiawaian didalam menentukan sebuah epistimologis, akan berpengaruh pada warna dan juga jenis ilmu  pengetahuan yang telah dihasilkan.

SEKILAS PERJALANAN BURHANI

Al-Burhani (demonstrative), secara simple, dapat diartikan yaitu suatu kegiatan berpikir dalam menetapkan suatu kebenaran proposisi (qadliyah) melalui proses pendekatan deduktif(al-istintaj) dengan menghubungkan proposisi-proposisi yang sudah terbukti dalam kebenarannya secara aksiomatik(badhihi).

Menurut seorang tokoh yaitu al-Jabiri, prinsip-prinsip dalam burhani baru dibangun seorang tokoh bernama Aristoteles (384-322 SM) yang populer dengan metode analitik, suatu piker (pengambilan sebuah keputusan) yang didasarkan pada proposisi tertentu, proposisi hamliyah atau proposisi syarthiyah dengan mengambil 10 kategori, menjadi objek kajian. Kuantitas, ruang, kualitas, atau waktu, tempat, dan selanjutnya. Pada zaman Alexander Aphrodisi, pelajar komentator Aristoteles, menggunakan istilah yaitu logika dan pada saat masuk ke dalam khazanah pemikiran islami telah berganti menjadi Burhani.

Cara pikir Aristoteles yaitu berpikir analitik masuk ke lingkup pemikiran islam melalui program penerjemahan buku-buku filsafat yang dilakukan pada zaman kekuasan khalifah al-makmun. Sesuatu agenda dan kegiatan yang merupakan awal sejarah dari pemikiran rasional yunani dan epistemologi bayani.

Program penerjemahan serta kebutuhan dalam penggunaan metode burhani, metode burhani mendasarkan kebutuhan yang ada, bahwa pada saat muncul banyak doktrin yang kurang atau lebih hiterodok yang muncul dari negara Iran, negara India, negara Persia atau daerah lain di pinggiran Islam, pusat islam itu sendiri manjadi akibat dari pencarian bebas merubah bentuk ke pemikiran bebas salah satunya penolakan wahyu serta lainnya yang dapat dikategorikan ke dalam istilah zindiq. Dalam upaya menjawab pertanyaan doktrin-doktrin tersebut, para ulama merasa memerlukan untuk mencari system yang rasional dan argument–argument yang dapat diterima akal, karena di metode sebelumnya, bayani, tidak lagi bisa memadai dalam menjawab persoalan-persoalan terbaru yang sangat beranekaragam yang dikenal sebelumnya.

Metode ini akhirnya menjadi benar-benar telah menenemukan tempat didalam system pemikiran islam sesudah zaman Al-Farabi. Filosof paripatetik terkenal sebagai “guru kedua’ sesudah Aristoteles yang menjadi ‘guru pertama’ karena pengaruhnya besar didalam peletakan dasar filsafat islam sesudah Aristoteles, bukan hanya dipergunakan dalam epistemology burhani serta filsafatnya, bahkan sebagai metode yang paling baik dan juga unggul.

PEMBAHASAN BURHANI

Pengertian psikologi agama secara secara umum ialah ilmu yang mempelajari ganguan jiwa yang biasa saja, dewasa dan memiliki kelakuan yang baik. Menurut Robers H. Thoules psikologi agama adalah ilmu  yang dipergunakan untuk mencari keterangan kelakuan dan kejadian manusia. Psikologi agama bermula dari dua kata, psikologi dan agama. Sedangkan pengertian psikologi agama secara menyeluruh  adalah ilmu yang mendalami  sikap, dan kelakuan manusia sebagai bayangan dari keadaan-keadaan kejiwaan yang berada dibelakangnya.  Karena jiwa bersifat tidak berwujud untuk mempelajari kehidupan kerohanian manusia banyak mungkin dilihat dari  gejala yang dapat dilihat, yaitu dari tingkah laku yang ditampakanya.

Epistemologi ialah ilmu yang membahas beranaekaragaman pengetahuan  sepertisusunan, sifat, cara, dan kebenaran alam yang asli. Menurut al-jabiri epistemologi(an-nidham al ma’rifi)diibaratkan “ kumpulan dari prinsip,konsep dan cara kerja untuk mencari pengetahuan yang mengandung keilmuan sejarah.

Pengertian epistemologi burhani secara spesifik dalam bahasa arab dari kata  al-burhan, yang artinya arguman, al-hujjah yang berarti jelas, al-bayinah, dan destine al-fash. Dalam bahasa inggris ialah demonstration, menurut bahasa latin dari kata “demostration’’ yang berari memberi syarat, sifat, penjelasan ataupun keterangan.

Dalam perspektif logika (al-mantiq) burhani menggambarkan suatu pemikiran untuk mendapatkan suatu kebenaran melalu metode pinyimpulan (al-istintaj).

Untuk menghubungkan ambisi tersebut terhadap ambisi yang lain yang dapat dibenarkan oleh nalar dan terbukti kebenaranya .dalam pengertian umum senderi burhani ialah aktivitas pemikiran yang normal dalam ambisi. Burhani menggantungkan hidup pada kekuatan pemikiran  atau akal yang dilakukan lewat jalan pemikiran yang masuk akal. Sedangkan ajaran atau kaidah agama cuma bisa diperoleh sesuai dengan  kekuatan pemikiran. Pendekatan ini menjadikan kenyataan bahan tertulis maupun situasi yang berhubungan dengan kejadian sebagai tempat  hasil beberapa pengetahuan. Dengan keadaan ini , test dan konteks berada didalam situasi yang saling berhubungan.Teks tidak berdiri seorang diri melainkan selalu berkaitan dengan konteks yang mengerumuni dan mengadakannya sekaligus konteks dari mana teks itu di baca dan dijelaskan, sehingga pengetahuan akan lebih kuat, dengan itu pengetahuan terhadap keaslian kehidupan sosial keagamaan dan sosial keislaman.

Epistemologi burhani dapat membantu perkembangan ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan meyucikan jiwa, membersihkan akhlaq. Karena epistemologi burhani mampu mengeluarkan beberapa faktor yang berkaitan antara pemikiran menurut fikiran dan ajaran teks Islam, sehingga tidak akan terjadi hal hal yang tidak semestinya dalam sebuah pendapat. Pendapat yang datang dari epistemolgi burhani akan lebih kuat status keadanya. Kebenaran dari teori dapat dilihat dari penguatan yang berasal dari ajaran-ajaran Islam.

Epistemologi burhani memfokuskan visinya pada kapasitas bawaan manusia secara naluriyah, inderwati , eksperimentasi, dan konseputalisasi. Fungsi dan peran akal dalam epistemologi burhani ialah sebagai alat analitk-kritis. Meteode burhani ialah suatu metode penelitian  atau penemuan ilmu yang menyandarkan kemampuan berfikir logis, dengan kaidah-kaidah tertentu yang disusun  secara urut dan sistematis metode semacam ini tentu saja dilakukan untuk memahami suatu objek ilmu ontologi yang non fisik. 

Karena itu dalam penelitian ilmu, akal berperan penting. Walau  demikian , untuk menjadikan metode burhani ini menjadi metode yang akurat dalam penemuan suatu ilmu haruslah dipenuhi syarat-syarat atau kaidah-kaidah tersebut telah dirumuskan  dan diatur oleh filosofi yunani, terutama dalam konteks metode ini, oleh ariestoteles , yang diikuti dan dimanfaat kan oleh filosofi muslim. Bahkan sebagai fuqah. Aristoteles telah mnyusun metode berfikir ini secara teratur,dalam bentuk silogisme.
Mengikui para filosof yunani, para ahli logika muslim telah menyusun tim al-mantiq, yang berisi kaidah-kaidah berfikir yang benar. Dengan mengikuti apa yang dirumuskan oleh aristoteles, para pemikir islam  telah menemukan lima macam metode, yang disebut hujjah ‘aqliyah seperti yang terlihat dalam bait-bait, yang diubah oleh abdur rahman bin muhammad ash-shaghir al-akhdhari, salah seorang ahli mantiq abad ke-10, dalam kitabnya asulam.

Burhani itu sendiri memiliki akal pemikiran dan filsafat Aristoteles. Al-jabiri sendiri menggunakan  sebutan tersebut untuk sebuah sistem pengetahuan (nidham ma’rifi) ia memiliki pandangan pemikiran tersendiri atau memiliki pandangan dunia tertentu tidak mengharapkan kepada otoritas pengetahuan yang lain. 

Nalar burhani merupakan kerangka berfikirdengan menggunakan cara–cara berfikir secara perbandingan , akal, premis pada proposisi dalam mencapai kebenaranya.Nalar burhani masuk pertama kali dibawah oleh al kindi kedalam peradapan islam (185-252H) , melalu tulisanya yakni al-falsafah al.ula menetapkan bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan manusia yang tinggi, dan sempurna dari pada mahkluk lain. Melalu tulisanya tersebut, al-kindi mengelak keraguan orang orang yang selama  ini meragukan keberadaan filsafat yang menyatakan bahwa filsafat ialah jalan mengetahui kebenaran.

Dalam perspektif nalar, burhani merupakan kegiatan berfikir untuk menargetkan kebenaran  suatu teori melalu cara penyimpulan  dengan menyambungkan teori tersebut dengan teori yang lain yang dari logika sendiri sudah dibenarkan. Pengertian umum nalar burhani ialah kegiatan logika yang menargetkan kebenaran suatu teori.  Burhani ialah panggilan untuk sebuah tema pengetahuan yang memakai cara tersendiri didalam pemikiran dan penglihatan dunia tertentu, tanpa mengikuti otoritas pengetahun yang lain menurut abied al jabiri. Logika menjadi luas tidak hanya sebagai ilmu-ilmu logika ilmiah melainkan telah menjadi semacam pandangan dunia yaang mempunyai ciri khusus. Pemikiran bisa dilihat dari pandangan tentang kenyataan, pendekatan yang digunakan untuk mengerti  kenyataan, gimana caranya memberikan peran pada logika, dan apa yang dicari dari semua target dalam usaha pemikiran.  logika sendiri bertolak dari penglihatan bahwa dasar kenyataan ialah umum. Hal tersebut menargetkan arti dari kenyatan pada tempat kekuasaan yang sah, sedangkan bahasa mempunyai sifat kesimpulan yang terbatas sebagai penentuan. 

Makna datang lebih  awal dari pada kata, karena inti datang dari cara berakal dalam tingkatan  nalar yang merupakan penjelasan al farabi. Setiap ilmu burhani berbentuk dari nalar burhani dan nalar burhani berawal  dari cara untuk memperoleh yang bersifat logika terhadap kenyatan sehingga muncul intinya. Inti sendiri butuh  menjadikan aktual sebagai upaya yang dapat di dimengerti.  
Selaku berkenaan dengan struktur, cara yang bertujuan diatas terdapat tiga hal , pertama ialah cara percobaan yakni pengamatan kenyatan. Kedua cara penyusunan memisahkan, yaitu terjadi gambaran dalam kenyataan dalam nalar. Yang ketiga ialah mimik  ialah memberikan kenyataan dalam kata-kata.
Bahasa silogisme berasal dari bahasa yunani sullogismos yang berarti menyetarakan dengan yang lain, menarik kesimpulan yang ditujukan pada kelompok. Silogisme diartikan kedalam bahasa arab yaitu aqiyas jamai yang sifatnya menyatukan dengan yang lain dua proposis yang disebut benar sebagai landasan yang jelas. Wujud dari alasan yang dipakai untuk menolak ataupun memperkuat pendapat harus dilengkapi dengan fakta.

Silogime terbentuk dari tiga tahap tahapan yaitu :

1.Tahap pengertian

Tahap pengertian ialah cara dasar yang tempatnya didalam pikiran kegiatan berfikir atas kenyataan yang pernah dialami merasakan sesuatu secara naluri untuk memperoleh suatu bayangan.

2.Tahap pernyataan

Tahap pernyataan ialah poposisi dalam susunan menerapan pengertian tersebut kedalam kalimat. Unsur pokok pembahasan termuat didalam proposisi yang didalamnya ada unsur pokok pembahsan maudia

3.Tahap penalaran 

Tahap penalaran tahap ini dilakukan dengan perlengkapan silogisme. Silogisme sediri harus meiliki dua bagian, yang pertama biasa disebut pernyataan umum al-hadd al-akbar. Sedangkan yang kedua ialah pernyataan khusus al-hadd al-asghar yang keduanya menarik kesimpulan yang logis dan saling berkaitan.

Burhani dapat disebut silogisme yang harus memiliki tiga tuntutan. Yang pertama menyaksikan akibat yang menjadi dasar tataan penarikan kesimpulan. Yang kedua adanya kaitannya  antara penalaran akibat dan kalimat yang disampaikan dari beberapa ide. Yang ketiga, sebuah gagasan yang didapat kan harus bersifat tentu, sehingga tidak ada pendapat lain selain itu atau tidak dapat digangu gugat. 

Tuntutan ketiga ini termaksud dalam karateristik silogisme burhani dimana kesimpulan bersifat tentu sedangkan tututan pertama dan kedua ialah yang terkait dengan silogismeDalam persepektif ada tiga pendapat yang bedasarkan pada penemuan kebenaran. Maka kebenaran yang dapat diperoleh dari mindset burhani terlihat adanya prihal dekat dengan kebenaran kualitas yang menjadi seragam atau mengacubpada keseragaman. Burhani sendiri memili hak cara pengamatan empirik yang teratur.
Kebenaran didirikan atas awal kaitan antara pembicara lain kebenaran didirikan atas awal kaitan pernyataan baru dengan pernyatan lain yang telah diterima keadaan yang cocok dan kejelasanya. Sehingga keadaan yang sesungguhnya tidak berbeda sedikit pun dengan ketetapan dalam bertindak, kesetaran dan saling terkait secara aturan. 

Burhani berasal dari bahasa arab al-burhan memiliki arti argument yang jelas. dalam bahasa inggris yaitu demonstration, yang memiliki akar Latin, demonstration (berarti memberi isyarat, keterangan, sifat, dan penjelasan). Dalam logika (al-mantiq), burhani merupakan aktivitas berpikir dalam menetapkan kebenaran argument dan suatu premis lewat metode penyimpulan (al-istintaj), dengan menghubungkan premis-premis yang oleh nalar akan dibenarkan atau sudah terbukti kebenarannya (badlihiyyah). Sedangkan didalam pengertian umum, burhani yaitu kegiatan nalar dalam menetapkan kebenaran dalam suatu premis.

Istilah burhani yang memiliki akar pemikiran didalam filsafat seorang tokoh Aristoteles ini, dipergunakan oleh al-Jabiri untuk sebutan terhadap suatu system pengetahuan dan pengetahuan ini menggunakan metode sendiri dalam pemikiran dan memiliki pandangan terhadap dunia tertentu, tanpa adanya bersandar pada otoritas ilmu pengetahuan lain.

Jika dilihat dari dua epistemology lain, yaitu bayani serta irfani, yang mana bayani menjadikan teks (nash), ijtihad, dan ijma’, sebagai dasar dan memiliki tujuan dalam membangun konsepsi alam memperkuat keyakinan akidah agama, Sedangkan irfani menjadikan al-kasyf untuk satu jalan dalam mendapatkan pengetahuan. Untuk  burhani lebih berpedoman pada kekuatan alami manusia berupa pengalaman, panca indra, dan akal dalam menggapai sebuah pengetahuan.

Burhani, sebagai metodologi sekaligus pandangan dunia, lahir dari alam pikiran Yunani, akuratnya dibawa oleh seorang tokoh terkenal Aristoteles selanjutnya terbahas secara efektif dalam karyanya Organon, walaupun terminology yang dipakai berbeda. Aristoteles mengemukakan dengan metode analitis yaitu metode yang menjelaskan pengetahuan lanjut sampai ditemukan dasar serta asal-usulnya, sedangkan anak didiknya sekaligus komentatornya yang memiliki nama Alexander .

Aphrodisi menggunakan istilah logika, dan pada saat masuk ke dunia Islam berubah menjadi burhani.
Dalam referensi lain juga dijelaskan, Burhani termasuk dalam bahasa Arab secara harfiyah memiliki arti mensucikan ataupun menjernihkan. Menurut jumhur ulama ushul, al-burhan yaitu sesuatu yang dapat memisahkan antara kebenaran dari kebatilan dan menemukan perbedaan yang benar dari yang salah lewat proses penjelasan.

Al-Jabiri melakukan pendekatan lewat sistem epistemologi yang dia bangun dengan menggunakan metodologi berpikir yang unik, tidak menurut terminologi mantiq serta juga tidak didalam pengertian umum, dan juga berbeda dari yang lainnya. Epistemologi pada abad pertengahan menduduki wilayah pergumulan budaya Arab Islam mendampingi epistemologi `irfani dan bayani.  

Epistemologi burhani yakni menekankan visinya untuk potensi bawaan manusia yang secara naluriyah, eksperimentasi, inderawi, dan konseptualisasi. sehingga epistemologi burhani yaitu epistemologi yang memandang  bahwasanya sumber dari ilmu pengetahuan yaitu akal. Akal memiliki  kemampuan dalam menemukan bermacam-macam pengetahuan, bahkan didalam bidang agama akal bisa untuk mengetahuinya, seperti masalah buruk dan juga masalah baik. Epistemologi banyak digunakan oleh aliran yang berpaham rasionalis seperti Mu’tazilah dan ulama moderat. 
Sumber pengetahuan dalam burhani adalah realitas baik dari alam, social, dan humanities. Sering disebut sabagai al-‘Ilm al-husuli, yaitu ilmu yang disusun lewat premis logika atau al-mantiq.  Peran akal sangat besar karena diarahkan untuk mencari sebab akibat.

Sumber pengetahuan di burhani yaitu alam, sosial, dan manusia, yang sering di kenal dengan al-‘ilm alhusuli, adalah ilmu yang dirangkai melalui logika(mantiq) . Filosofis dan saintik merupakan suatu cara pengenalan nalar, nalar yaitu suatu olah pikiran manusia  mengenai suatu peristiwa yang telah terjadi dihubungkan dengan kelogisan peristiwa itu. Nalar lebih mengedepankan serta mementingkan pemberian sebuah argument ataupun pendapat serta alternative pemecahan masalah berbagai fenomena empiric, didalam nalar manusia bisa menyerahkan argumentnya ataupun pendapatnya dalam bermacam-macam hal yang bisa memberikan sebuah solusi pemecahan.

Kebenaran didirikan atas awal kaitan antara pembicara lain kebenaran didirikan atas awal kaitan pernyataan baru dengan pernyatan lain yang telah diterima keadaan yang cocok dan kejelasanya. Sehingga keadaan yang sesungguhnya tidak berbeda sedikit pun dengan ketetapan dalam bertindak, kesetaran dan saling terkait secara aturan. 

Perkumulan komunikasi tentang masuknya akal dalam kebudayaan Arab Islam adalah persoalan yang sulit, karena hal ini meniscayakan terjadinya perang komunikasi maupun ideologi-politik, yakni berhadapan dengan kebudayaan akal Arab yang di satu sisi menganut aliran sesat sebagaimana dianut kelompok Almanawiyah dan Syiah Batiniyah, yang diperangi oleh kelompok filsafat Islam yang dibawa pertama kali oleh al-Ma’mun dan dikuatkan oleh pemikiran-pemikiran al-Kindi mengenai filsafat Islam.

Kerangka teoritik pemikiran Aristoteles sesungguhnya ialah logika. Alexander Aphrodissias hidup pada abad 2-3 masehi ialah pencantum konsep logika.merupakan komentator terbesar Aristoteles. Sementara Aristoteles menyebut analitika, yang maksudnya adalah menganalisis ilmu sampa pada prinsip-prinsip dan dasar-dasarnya yang terdalam. Untuk menggapai tujuan harus memahami silogisme, tetap untuk sampai kesana terlebih dahulu memahami silogisme salah satu cara mencapai dan salah satu macam ilmu burha .

Silogisme pada awalnya terdiri dari beberapa proposisi yang disebut dengan pernyataan khusus,pernyataan umum dan konklusi. Pernyatan dan kesimpulan pada awalnya terdiri dari beberapa pernyatan yang disebut pernyataan umum, Di samping itu dua premis tersebut harus mengandung satu term yang sama, yang disebut term tengah. Pernyatan umum bersifat simpulan, kesimpulan yang tidak akan terlaksana ialah bersifat konklusif. Contohnya setiap mahluk hidup tidak akan bernafas lagi.

Dengan itu, silogisme sendiri harus memiliki tiga hal.Hal pertama ialah silogisme harus memiliki dua asumsi.Yang kedua tidak boleh keluar dari semua yang ada di asumsi pertama.Kedua, silogisme terbentuk dari dua asumsi yang mengandung tiga istilah, yaitu istilah tengah yang ada kedua asumsi, istilah umum yang terdapat pada pernyataan umum, dan istilah khusus yang terdapat pada pernyatan khusus.Sedangkan yang ketiga harus tercantum didalamnya istilah tengah pada kedua asumsi dalam konklusi. Aristoteles berkata bahwa ilmu ialah cara menemukan timbulnya sesuatu.Aristoteles berkata bahwa ilmu adalah upaya menemukan sebab.

Falsafat dibedakan orang sejak awal zaman modern.Falsafat tidak lagi mencakup ilmu. Ilmu itu sendiri telah dilepaskan  atau dikeluarkan dalam falsafat itu sendiri.  Wilayah yang mencangkup kajian ilmu ialah dunia fisik, dunia empiric, atau pun dunia materi. Apa yang tidak bisa didapat dari penglihatan, penciuman,perasa, walau dipercayai kebanyakan manusia. Seperti dewa, jin, roh manusia, setan bahkan iblis, tidak termasuk dalam kajian ilmu.  Kajian ilmu tidak diarahkan kepada persoalan yang berurusan dengan moral dan etika yang dianut masyarakat kelompok.

Kajian ilmu tidak diarahkan kepada persoalan yang berurusan dengan moral dan etika yang dianut masyarakat kelompok.Persoalan itu yakni kebaikan maupun keburukan.Apa itu keindahan Maupun tidak keindahan tidak merupakan persoalan yang dikaji ilmu.Kajian ilmu yang bersifat empirik, deskriptif, non aestetik dan non etikdapat dilihat sebagai kajian yang tidak mendalam,tidak mendasar, dan tidak sampai ke akar-akarnya.

Kajian filsafat tidak akan mengabaikan  hasil proses.Ide pembaruan dalam falsafat Islam dan pemikiran keislaman kekinian terletak pada sejauh mana ilmu-ilmu tersebut mampu berinteraksi dan berbicara dengan perkembangan baru dalam diskursus keislaman. Jika saja, ilmu-ilmu itu tetap bertahan, pada pola lama untuk  menjaga keaslianyanya, maka ide-ide segar yang disumbangkan oleh metodologi ilmu-ilmu baru tersebut akan terhindar.

Sedangkan jika mereka secara apresiatif-terampil menyeleksi dan mengabungkan metodologi keilmuan baru dengan ilmu-ilmu keislaman, maka pembaruan dalam filsafat Islam dan pemikiran keislaman akan tampak dengan sendirinya.Fungsi pertama yang dikaji ilmu ialah untuk mendefinisikan sifat-sifat ataupun hukum-hukum dalam dunia materi ini., termasuk manusia, sejauh yang ditunjukan ini secara empiric. Ilmu itu sendri telah menjelaskan apa yang sedang terjadi, apa yang sudah terjadi maupun meramalakan apa yangakan terjadi pada dunia materi. Fungsi kedua dari ilmu merupakan bagaimana mengontrol, memperluaskan, memahami alam ini untuk manusia.  Perlu diingat ilmu tidak berbicara  tentang dan tidak menentukan norma apa yang harus dipatuhin maupun sebaliknya. 

Meskipun al-Kindi telah berjasa dalam memperkenalkan nalar burhani ke tengah peradaban Arab-Islam, namun menurut Abid Al-jabiri usaha al-Kindi hanya bersifat parsial.Usaha al-Kindi dengan menulis al-Falsafah al-Ula tidak berada dalam konteks memperkenalkan “nalar rasional” seperti yang dicirikan dalam filsafat Aristoteles. Kepentingan al-Kindi menurut Abid Al-jabiri tidak lain adalah menyerang kalangan fuqaha yang ketika itu menolak mati-matian filsafat.Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi betujuan mengkaji ataupunmencoba menemukan ciri-ciri luas dan sebenarnya dari pengetahuan manusia.Bagaimana pengetahuan itu pada dasaranya didapatkan  dan diuji kebenaranya? manakah ruang lingkup dan batas-batas kemampuan manusia untuk mengetahui? epistemologi juga bermaksud secara kristis mengakaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkanya serta memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnyapertanyaan pokok “bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu?” mau dicoba untuk menjawab secara seksama.

Epestimologi atau filsafat pengetahuan pada dasaranya juga merupakan suatu upaya nyata  untuk menimbang dan menentukan nilai kecerdasan pengalaman manusia dalam interaksinya dengan diri, lingkungan sosial, dan alam sekitarnya. maka epistemologi ialah suatu tatatertib ilmu yang bersifat penilaian, disusun rapi dankeadaan genting. evaluatif bearti bersifat menilai ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap ,dan penyataan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan dijamin kebenaranya, atau memeiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara akal. noramatif berarti menentukan norma atau tolok ukur penalaran bagi kebenaran pengetahuan.

Dalam falsafat, baik falsafat barat maupun falsafat islam  istilah yang sering kali digunakan ialah rasionalisme yaitu aliran yang menyatakan bahwa akal pertimbanganadalah dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta yang berdasarkan pengalaman. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596–1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716).

Yang pertama kali muncul di dunia islam bagian barat adalah ibnu bajjah ia merupakan filosof muslim. Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Yahya. Ibnu Bajjah, diakui memiliki pengetahuan yang sangat luas dan pandangan yang terpercaya. Sedangkan dalam ilmu tafsir istilah tafsir bil al-rayi  sering digunakan pada makna burhani. Jika melihat pernyataan al-Qur'an, maka akan  ditemui sekian banyak ayat yang menyuruh manusia untuk menggunakan logikanya  dalam menimbang ide yang masuk ke dalam dirinya.Banyak ayat yang berbicara tentang hal ini dengan berbagai redaksi seperti ta'qilun, tatafakkarun, tadabbarun dan sebagainya.Pemikiran islam pertama kali masuk yaitu cara berpikir untuk mendapatkan penjelasan  dibawa oleh Aristoteles lewat rancangan  usaha pengartian buku-buku filsafat yang sangat cekatan dilakukan pada saat wewenang al-Makmun. Sesuatu rancangan yang dianggap sebagai tiang sejarah pertemuan pemikiran dan pertimbangan yang logis Yunani dengan pemikiran keagamaan arab. Mengartikan susunan dan kebutuhan akan penggunaan cara burhani ini sendiri.

Didasarkan oleh gugatan kebutuhan yang ada. bahwa saat itu muncul banyak ajaran keagaman suatu politik yang kurang lebih menyimpang dari kepercayaan yang datang dari Iran, India, Persia atau daerah lain dari pinggiran Islam,seperti Madinah,patung yang menyerupai manusia , paham yang bersandar pada mater, atau bahkan dari pusat islam sendiri sebagai dampak dari penyelusuran bebas yang berubah bentuk dan menjadi pemikiran bebas seperti penolakan terhadap wahyu dan lainnya yang disebut dengan orang yang menyembuyikan kekafirannya tetapi memperlihatkan keislamanya.

Kaum burhani  mempunyai cara pandang yang berbeda yaitu berfikir bahwa hakikat dari filsafat ialah umum ataupun terbuka. Yang menepatkan makna ia posisi otoritatif, sedangkan bahasa hanya sebagai penegasan  atau wujudnya. Hal ini sama dengan penjelasan al-faribi bahwa makna datang  dari sebuah pengkopsesian intelektual yang terdapat dalam pemikiran atau rasio yang dibenarkan kalimatnya. Menurut pengandai al-faribi konsepsi intelektual itu letaknya didalam kata itu sendiri. Maka yang lahir selanjutnya  bukanlah makna atau pemikiran baru melainkan kata kata yang baru.

Jadi, ilmu burhani tersusun dari nalar, logika dan fikiran. Nalar burhani berawal dari cara abstraksi bersifat akal terhadap realitas. Kemudian muncul makna  dan makna itu sendiri butuh pembenaran sebagai cara untuk dapat dimengerti. Kemudian disinilah ditempatkan kata-kata, dan redaksi lain. Kata-kata itu dipergunakan sebagai simbol pernyatan  makna.

KARAKTERISTIK EPISTEMOLOGI BURHANI

Dalam hal memandang sebuah proses keilmuan, golongan Burhaniyun ini bertolak belakang dari cara piker filsafat yang mana hakikat sebetulnya yaitu universal. Tentunya ini akan memposisikan ‘makna’ pada posisi otoritatif, kemudian ”bahasa” yang bersifat particular sebagai penegasan ataupun ekspresinya. Hal-hal tersebut tampak sejalan  dari penjelasan al-Farabi bahwasanya “makna” datang lebih dalu dari “kata”, karena makna datang dari pengkopsesian kecerdasan intelektual yang ada didalam pola pemikiran atau rasio yang diaktualisasikan kata-kata. Al-Farabi memberikan pengecualian bahwasanya sekiranya konsepsi intelektual terletak didalam kata-kata itu sendiri maka lahirlah yang selanjutnya bukan makna dan pemikiran baru akan tetapi kata-kata baru.

Jadi ilmu burhani berpola nalar burhani, nalar burhani sendiri bermula dari suatu proses abstraksi bersifat akali kepada realitas, oleh karena itu muncul makna, serta makna sendiri itu membutuhkan aktualisasi dalam upaya agar dapat dipahami dan juga dimengerti, untuk itulah ditempatkan kata-kata, dengan sebuah redaksi lain, kata-kata yaitu alat komunikasi dan juga untuk sarana berpikir di sebelah sebagai sibol untuk pernyataan makna.

Mengikuti tokoh Aristoteles, Al-jabiri menjelaskan bahwasanya setiap burhani pastilah silogisme, akan tetepi yang namanya silogisme itu belum tentu burhani, silogisme burhani bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, tidak untuk tujuan tertentu, silogisme yang bisa disebut dengan burhani, haruslah memiliki tiga syarat; pertama, mngetahui penyebab secara struktural, kedua, abstraksi yaitu terjadinya bayangan atas realitas didalam pikiran, ketiga, ekspresi adalah menunjukkan realitasnya dalam kata-kata.

Berhubungan dengan cara ketiga dalam memperoleh ilmu burhani tersebut, penjelasan untuk qiyas burhani atau silogisme demonstrative menjadi signifikan. Silogisme sendiri dari bahasa Yunani, sullogismos kata tersebut bentukan dari sullegin yang berarti mengumpulkan, yang melihatkan pada kelompok, penghitungan serta penarikan kesimpulan. Kata itu diterjemahkan ke bahasa Arab menjadi kata qiyas yang lebih tepatnya adalah qiyas jama’i yang karakteristiknya menghimpunkan dua proposisi-proposisi yang selanjutnya disebut premis, selanjutnya dirumuskan kaitan-kaitanya dengan meminta bantuan dari terminus medius atau term tengah ataupun menuju kepada konklusi yang bisa meyakinkan. Metode ini menjadi yang paling dikenal di kalangan filsuf Peripatetik. Sementara itu Ibnu Rusyd menjelaskan demonstrasi dengan ketentuan dari satu argument yang konsisten, yang pasti kebenarannya diperoleh dari premis atau argument pasti sehingga kesimpulan akan didapatkan juga pasti, sementara itu bentuk dari argument haruslah diliputi dengan fakta akali. Sehingga qiyas burhani atau silogisme demonstratif yang disebut diatas yaitu silogisme yang argumen-argumennya terbentuk dari konsep yang benar, yang memastikan, sesuai realitas (bukan nash) dan dapat diterima oleh akal pikiran manusia.

Aplikasi bentukan silogisme wajib melalui tiga tahapan atau proses yaitu tahap pengertian, tahap pernyataan, dan tahap penalaran.

Tahap pengertian adalah proses pertama yang tempatnya didalam pikiran dan didalam pikiran terjadi pengabstraksian, yaitu kegiatan berpikir atas realitas dari hasil wawasan, pengindraan, serta penalaran untuk memperoleh suatu gambaran. Seperti Aristoteles, pengertian ini selalu merujuk kepada sepuluh kategori yang merupakan satu substansi yang menopang tegaknya Sembilan aksidensi yang meliputi relasi, kualitas, aksi, passi, kuantitas, waktu, tempat, sikap dan keadaan.

Selanjutnya tahap pernyataan, dalam upaya mengekspresikan pengertian didalam imat yang dikenal proposisi. Dan dalam proposisi haruslah memuat unsur subyek dan predikat serta harus adanya relasi diantara keduanya, salah satu darinya hanya memiliki satu buah pengertian dan juga mengandung sebuah kebenaran yaitu harus adanya keselarasan dengan realitas dan juga tidak adanya keragu-raguan serta persangkaan. Dalam upaya mendapatkan keselarasa dan juga tidak adanya keraguan maka pernyataan dibuat mempertimbangkan al-alfadz al-khamsah.

Kemudian ahap penalaran ini dikerjakan dengan bantuan perangkat silogisme. Satu silogisme haruslah terdiri dua proposisi yang disebut premis menjadi sebuah alasan didalam penyusunan premis. Selanjutnya adanya hubungan yang logis diantara sebab dengan kesimpulan. Kemudian, kesimpulan yang telah dihasilkan haruslah bersifat pasti, sehingga tidak ada lagi kesimpulan yang lainya selain kesimpulan itu.

Dalam burhani dituntut penalaran yang harus sistematis, lalu logis, serta saling berkaitan dan saling konsisten diantara premis-premisnya, dan juga secara benar harus koheren dengan pengalaman yang telah ada, begitu pula dengan tesis kebenaran konsistensi ataupun koherensi. Kebenaran itu tidak akan pernah terbentuk melalui hubungan antara suatu putusan dengan sesuatu yang lain, akan tetapi atas hubungan diantara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwasanya kebenaran tegak atas dasar hubungan diantara putusan yang baru dengan sebuah putusan lain, dimana putusan yang lain telah ada serta diakui kebenarannya dan juga kepastiannya sehingga kebenaran yang identik dengan konsistensi, kecocokan dan saling berkaitan secara sistematis.

PERAN UNTUK EPISTEM SELANJUTNYA

Dalam perkembangan epistem selanjutnya, metode burhani dianggap lebih dunggulkan dibanding dengan kedua epistemologi yang lain bayani dan irfani, ternyata memiliki kekurangan, bahwasanya burhani tidak dapat sampai keseluruh realitas wujud. Ada sesuatu hal tidak dapat dicapai oleh penalaran rasional saja, meskipun rasio telah menerima sesuai dengan prinsip segala sesuatu, bahkan dalam silogisme yang rasional sendiri pada saat-saat tertentu tidak dapat menerangkan ataupun mendefinisikan sesuatu hal yang diketahuinya.

Menurut bapak Suhrawardi (1154-1192 M), kekurangan burhani diantaranya yaitu, (1) Bahwa ada kebenaran yang tidak dapat digapai oleh rasio ataupun dibahas melalui burhani, (2) Ada kekuatan diluar pikiran manusia yang dapat dicapai nalar akan tetapi tidak dapat diterangkan burhani, seperti hal warna, rasa, bau, atau bayangan, (3) prinsip burhani yang menyatakan bahwa perlengkapan sesuatu wajib dijelaskan oleh perlengkapan yang lain akan menuju pada proses tanpa akhir. Jelasnya, burhani dan demonstrasi belaka tidak dapat menyingkapi seluruh kebenaran yang ada dan realitas sesuatu hal yang mendasari alam semesta.

Karena hal itu, muncul suatu metode baru yang dikenal iluminas yang mengkombinasikan metode burhani yang memakai kekuatan rasio dengan metode irfani yang memakai kekuatan hati melalui kasyf maupun intuisi. Metode yang ini berusaha mencapai sebuah kebenaran yang tidak digapai melalui jalan intuitif, namun dengan sebuah cara membersihkan hati selajutnya menganalisa serta melandasinya dengan  sebuah argumen yang rasional. Dengan mengkombinasikan metode yang terakhir, pengetahuan serta hikmah yang dapat diperoleh bisa lewat akal, hati, ruhaniah. Pengetahuan maupun hikmah memberikan pencerahan yang kognisi, dan realisasi.

RUMPUN BURHANI

Sumber dari pengetahuan didalam prespektif burhani adalah realitas berasal dari alam, dan social, serta humanities. Sering dikenal sabagai al-‘Ilm al-husuli, yang berarti ilmu yang dibuat melalui logika(mantiq). Akal pikiran berperan besar karena akal tersebut ditekankan untuk mencari ataupun menemukan sebab akibat.

Pendekatan yang digunakan dalam nalar yaitu filosofis dan juga saintik. Nalar ini lebih memfokuskan pemberian pendapat atau argument dan pemberian alternative pemecahan masalah dalam berbagai fenomena empiric.  Fenomena sosial dan juga fenomena alam  tidak diterima menjadi hukum sunat tapi dituntut kretifitas untuk merenungkan setiap tujuan dari penciptaan tersebut. Dibutuhkan pemikir berteologi qadariyah yang mempunyai pandangan bebas, kreasi dan tanggung jawab serta kritis. Ciri orang yang memppunyai nalar kritis ialah, memiliki kesadaran mengenai problem dan masalah yang ada disekelilingnya dan selalu aktif dalam memberikan sebuah alternative suatu pemecahan.
 
Epistemologi burhani ini juga mengharuskan orang agar dapat membuat gambaran dari beragam fenomena yang telah dibaca. Jenis pendapat yang ada didalam nalar burhani ialah  demonstrative. Nalar tersebut dipenuhi pendapat yang mempunyai sifat pembuktian, elaborasi, dan deskripsi tentang sesuatu.

Keilmuan yang tercantum ke dalam nalar ini yaitu, filsafat, ilmu-ilmu alam seperti fisika, biologi, matematika, dan kedokteran, serta ilmu sosial seperi antropologi, sosiologi, psikologi, dan sejarah.
Agama yaitu rangkaian kepercayan kekuatan gaib. Agama yaitu rangkaian tata keyakinan, ibadah dan menghadap seutuhnya. Unsur-unsur agama yaitu keyakinan, ibadah maupun tata keyakinan. Asal pengetahuan tentang ahlak, tepatnya mengenai baik dan buruknya ialah agama. Agama memberi jalan yang baik dengan tujuan agar bisa dicapai oleh manusia. Sementara sains, sains yaitu sebagai mana kita memahami alam. Keilmuan yaitu isi utama mengenai alam yang sifatnya mengirangira dan untuk melakukan sesuatu makna yang seutuhnya mengenai objek yang diungkapkannya.

Sains membatasi diri pada sasaran yang berdasarkan pengalaman, terukur dari makhluk hidup dan kenyatan alam. Memperluas ilmu dalam sebuah ragam yang tidak berlebihan tepat pada sasarannya, berdasarkan pengalaman kenyataan menjelma jumlah yang tidak tentu banyaknya dapat berubah-ubah dan tidak dapat dilepaskan dalam sebuah hubungan yang sifatnya menurut pikiran dan pertimbangan yang logis. Untuk mengetahui pengetahuan mengetahui atau mencari penghitungan yang pasti mengenai alam yang sifatnya mengenal seluruhnya dan tidak bersifat pribadi. 

Pengertian pendidikan sendiri adalah suatu kebutuhan yang pemting dan harus dipenuhi oleh seluruh manusia. Adanya pendidikan akan menjadikan individu yang mempunyai kesantunan, akhlak dan budi perkerti serta berketuhanan Yang maha Esa. Hal ini menjadi orientasi yang paling utama untuk bangsa dalam menuntasakan masyarakatnya dari keterbelakangan bahkan ketertinggalan dalam kehidupan. Ini menumbuhkan suatu inovasi dalam bentuk pendidikan yang banyak dibutuhkan. Revolusi pendidikan akan menciptakan pembaharuan yang sangat urgen dibidang pendidikan.

Faktor-fakor internal yang mendukung proses pembelajran dapat berjalan sesuai dengan harapan. Diharapkan faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan pada kualitas pendidikan. 

Pertama faktor jasmani yaitu kesehatan dan cacat dapat menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Kesehatan sangat berpengaruh dan dapat berpengaruh dalam proses pembelajaran jika kesehatan dinyatakan baik. Seseorang yang ingin belajar harus mampu menjaga kesehatan agar dapat melewati proso pembelajaran dengan baik dan hasil yang diharapkan.  

Kedua, faktor psikologi yaitu intelgensi yaitu sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan otak dalam memaksimalkan fungsinya. Kemampuan yang tinggi dapat membantu proses belajar yang baik dan dapat mempelajari bidang tertentu. Faktor ini berpengaruh pada kualitas belajar, semakin tinggi kualitas intelgensi perserta didik, maka akan menjadi peluang yang besar untuk mendapatkan hasil belajar yang memuaskan tapi, perlu diingat tingkat intelengensi tidaklah sama. 

KESIMPULAN

Al-burhan atau burhani merupakan sebuah kata dari arab yang memiki sebuah arti yaitu argument atau pendapat yang jelas, dan juga memiliki arti mensucikan ataupun menjernihkan. Al-Burhani (demonstrative), secara simple, dapat diartikan yaitu suatu kegiatan berpikir dalam menetapkan suatu kebenaran proposisi(qadliyah) melalui proses pendekatan deduktif(al-istintaj) dengan menghubungkan proposisi-proposisi yang sudah terbukti dalam kebenarannya secara aksiomatik(badhihi).

Burhani pertama kali digunakan seorang tokoh terkenal yaitu Aristoteles, yang pada penekanannya melalui nalar pikiran manusia. Burhani menggunakan akal pikiran dalam pendekatan jadi suatu peristiwa yang terjadi harus sesuai dengan kelogisan.

Cara pikir Aristoteles yaitu berpikir analitik masuk ke lingkup pemikiran islam melalui program penerjemahan buku-buku filsafat yang dilakukan pada zaman kekuasan khalifah al-makmun. Sesuatu agenda dan kegiatan yang merupakan awal sejarah dari pemikiran rasional yunani dan epistemologi bayani, dan kemudian berganti menjadi burhani.

Dalam perkembangannya berhani memimiliki bebrapa kelemahan daiantaranya, (1) Bahwa ada kebenaran yang tidak dapat digapai oleh rasio ataupun dibahas melalui burhani, (2) Ada kekuatan diluar pikiran manusia yang dapat dicapai nalar akan tetapi tidak dapat diterangkan burhani, seperti hal warna, rasa, bau, atau bayangan, (3) prinsip burhani yang menyatakan bahwa perlengkapan sesuatu wajib dijelaskan oleh perlengkapan yang lain akan menuju pada proses tanpa akhir. Jelasnya, burhani dan demonstrasi belaka tidak dapat menyingkapi seluruh kebenaran yang ada dan realitas sesuatu hal yang mendasari alam semesta.

Untuk Melihat sunber penulisan artikel ini dapat kalian download pada link DI SINI

Sumber:
  • http://ahmadbarokah05.blogspot.com/2012/10/pengertian-perkembangan-dan-metode.html?m=1
  • http://muhammad-kurdi.blogspot.com/2008/10/pendekatan-bayani-burhani-dan-irfani.html?m=1
  • http://bieberswifee.blogspot.com/2016/10/makalah-pengantar-studi-islam.html?m=1
  • http://podoluhur.blogspot.com/2018/05/pengelompokan-keilmuan-dalam-islam13.html?m=0
  • http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/09/epistemologi-bayani-burhani-dan-irfani.html?m1
  • https://scholar.google.co.id/citations?user=2fZ0mqsAAAAJ&hl=id



Share This Article :
Candra fitriyanto

Pemuda dari desa yang ingin menjadi pebisnis, yang saat ini masi bekuliah di IAIN Metro Lampung Tandris Matematika (alamat: Mujirahayu kecamatan; seputih agung Kab: lam-teng)

5606159572399492275