Skip to main content

Menginterpretasi cerita pendek lengkap dengan cuplikan cerpennya

enginterpretasi Cerita Pendek

A. Menginterpretasi Cerita Pendek

Kita telah mengetahui bahwa karakteristik bahasa yang lazim digunakan dalam cerpen adalah bahasa sehari-hari. Oleh karena itu, kemungkinan munculnya kata-kata sulit akan jarang terjadi. Hal itu berbeda dengan teks beragam ilmiah yang banyak terdapat kata-kata teknis di dalamnya. Meskipun demikian, masih ada kemungkinan satu atau dua kata yang tidak kita pahami maknanya.

Interpretasi atau pemaknaan sebaiknya difokuskan pada hikmah atau nilai yang bisa kita ambil di balik isi cerpen tersebut. Hal ini karena cerpen tidak lepas dari nilai-nilai agama, budaya, sosial, maupun moral.

Dalam suatu cerpen, nilai-nilai itu sangat beragam, yakni mencakup haJ-hal sebagai berikut.

1. Nilai-nilai agama berkaitan dengan perilaku benar atau salah dala'm menjalankan aturan-aturan Tuhan.
2. Nilai-nilai budaya berkaitan dengan pemikiran, kebiasaan, dan hasil karya cipta manusia.
3. Nilai-nilai sosial berkaitan dengan tata laku hubungan antarsesama manusia (kemasyarakatan).
4. Nilai-nilai moral berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk yang menjadi dasar kehidupan manusia dan masyarakatnya.

Memaknai atau mcnggali nilai-nilai tersebut kadang tidak mudah. Kita perlu meresapi bagian ceritanya dengan lebih intensifdan tidak sekadar menikmatinya sebagai sarana hiburan. Untuk memaknai nilai-nilai tersebut, kita dapat melakukannya dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, misalnya seperti pertanyaan berikut.

a. Mengapa judul cerpen itu menggunakan kataA dan bukan kata B?
b. Mengapa cerita itu berlatar padang pasir? 
c. Mengapa nama tokoh itu kebarat-baratan?

Jawaban dari pertanyaan tersebut akan membawa kita kepada kcsimpulan mengenai nilai tertentu yang disajikan pengarang dalam sebuah cerita.
Perhatikan cuplikan cerpen berikut.
Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak temannya di dunia terpanggang panas, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan, ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali kc Mekah dan bergelar Sych pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, lalu bertanya kenapa mereka di neraka semuanya.
Tetapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun tak mengerti juga.
“Bagaimana Tuhan kita ini?” kata Haji Saleh kemudian. “Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadah, teguh beriman? Dan itu semua sudah kjta kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan kc neraka.”
“Ya. Karni juga berpendapat demikian. Tengoklah itu, orang-orang senegeri kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.”
“Ini sungguh tidak adil.”
“Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.
“Kalau begitu, kita harus minta kesaksian kesalahan kita. Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau ia silap memasukkan kita kc neraka ini.”
“Benar. Benar. Benar,” sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. “Kalau Tuhan tak
mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?” suatu suara melengking di dalarn kelompok orang banyak itu.
“Kita protes. Kira resolusikan,” kata Haji Saleh.
“Apa kita revolusikan juga?” tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.
“Itu tergantung pada keadaan,” kata Haji Saleh. “Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.”
(Cerpen "Robohnya Surau Kami”, A.A. Navis)
Terdapat beberapa kandungan nilai dalam cuplikan cerpen di atas. Nilai tersebut berkaitan dengan masalah keagamaan, yakni ketaatan seseorang dalam beragama (ibadah ritual) tidak menjamin seseorang terhindar dari kemungkinan masuk neraka.

Pemilihan latar neraka untuk cuplikan cerpen itu tampaknya bertujuan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Begitu pun dengan penggunaan Saleh untuk nama salah seorang tokohnya. Hal itu menggambarkan bahwa nama seseorang tidak selalu menggambarkan perilaku dirinya. Nama dan perilaku dapat pula bertolak belakang. Hal itu dapat terlihat dalam kutipan cerpen tersebut, yakni Saleh yang memiliki perilaku berbeda dengan namanya. Tokoh itu sering berbuat salah sehingga akhirnya tetap masuk neraka.

Sumber:Buku Bahasa Indonesia Kelas XI SMK/MK jilid 2 "KREATIF BERBAHASA INDONESIA" BAB 2 HALAMAN 38-39
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar