MGBdMqV8LGF6NqN4LGJ4NqR6MCMkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE103

Pendahuluan Metodologi studi islam



Pendahuluan Metodologi studi islam


Metodologi studi islam termasuk pendidikan yang sangat prima, karena metodologi studi islam (MSI) ini merupakan pendidikan islamik yang mengajarkan kita menjadikan manusia sebagai makhluk yang bertaqwa kepada Allah, patuh kepada perintah Allah, dan menghindari apapun yang dilarang oleh-Nya, serta berahlak mulia. Dan studi islam ini pun mengajarkan kita untuk selalu menghormati orang yang lebih tua, terutama kepada kedua orang tua, toleransi, dan sikap fleksibilitas dalam mengjajaki pertumbuhan arus sistem kemajuan zaman di dunia yang semakin mengglobal. Yang dimaknai dengan studi islam yaitu pendidikan dan tuntunan yang mengajarkan kita terhadap ajaran-ajaran atau aliran-aliran yang sumbernya berasal dari agama islam sendiri. Studi islam ini sebaiknya diajarkan dan ditanamkan sejak dini, supaya anak-anak mengenal siapa Tuhannya, siapa Nabinya, apa kitabnya, bagaimana mengenal hukum-hukum islam dan ajaran-ajaran dalam islam, juga mengajarkan dan menumbuhkan dalam diri mereka tentang rasa iman atau keyakinan dengan adanya hal tersebut. Selain dari pada hal itu, studi islam tidak hanya dikembangkan ataupun  disampaikan melalui guru yang lazimnya dinyatakan dengan pengajar dan pendidik saja, karena pada awalnya, pendidikan islam dikembangkan dari Nabi kita, Muhammad SAW kepada sahabat-sahabatnya, dai, kiyai, usatadz-ustadzah, sampai kepada segenap umat islam sampai saat yang sekarang ini.  

Berhubungan dengan metodologi studi islam ini, pendidikan agama islam sangatlah penting. Pada dasarnya, pendidikan agama islam saling melengkapi dan memiliki tujuan yang sama, yakni dalam aktivitas kehidupan, peserta didik tidak akan lepas dari pengalaman agama, berakhlakul karim, berkepribadian utama, dan berwatak sesuai dengan ajaran agama islam. [1]

Islam berpusat atau berpacu dan berorientasi terhadap dua pedoman hidup, diantaranya Al-quran dan al-hadist sebagai sumber utama tujuan islam dalam menanggapi dan memberikan keputusan yang berkaitan dengan fenomena yang sedang dipermasalahkan atau didiskusikan pada saat itu. Selain hanya itu, di dalam ruang lingkup islam juga terdapat banyak sekali aturan-aturan kehidupan dan aktifitas yang dilakukan manusia setiap hari. Yang dalam hal itu tidak hanya mengacu pada topik mengenai pendidikan formal saja, melainkan juga belajar dalam bentang lingkup pendidikan sehari-hari. Sebagaimana kaidah ketentuan tentang semua tata cara di kehidupan yang menata dan mengurus sesuatau, kegiatan jual dagang dan perekonomian adalah sebagai contohya.

 Adanya agama islam yang dipikul dan disiarkan oleh Nabi Allah SAW, diyakini dan dipercayai bisa menjamin serta memperbaiki, juga merubah seluruh tata cara terwujudnya kehidupan seluruh umat. Petunjuk dan petuah agama yang mencakup seluruh sudut pandang kehidupan manusia, sebagaimana halnya tercantum di dalam pedoman dan sumber ajarannya. Al-quran dan hadist terpandang ideal dan agung supaya dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata yang berbasis islami. Islam memberikan pelajaran pada setiap lapisan kehidupan yang dinamis dan berhaluan ke arah perbaikan dari keadaan sekarang (kehidupan dunia politik), toleransi dan fleksibelitas  dengan menghargai setiap pendapat pemikiran seseorang dan masukan ide-ide melalui tingkat kelajuan ilmu pengetahuan global dan teknologi informasi yang semakin mendunia, dapat berbuat sebanding dalam melengkapi kebutuhan jasmani dan rohani,  tiada putus-putusnya untuk selalu memuaikan dan membiasakan diri terhadap kepedulian sosial, menghargai dan menanajemen waktu, mempunyai sikap terbuka dan demokratis, berorientasi atau berpatokan pada kualitas, egaliter, berakhlak mulia, dan masih banyak yang lainnya.

Al-quran merupakan wahyu Allah sekaligus pesan-pesan suci dari Allah yang diturunkan dan dititipkan dengan Rasulullah saw sebagai perantaranya. Al-quran yang berperan sebagai  petunjuk untuk dijadikan pedoman atau pegangan dalam mengarungi kehidupan di alam dunia dan meraih pula kebahagiaan di alam akhirat kelak. Al-quran ditujukan bagi semua umat manusia tanpa terkecuali yang hidup di alam fana ini, dari masa sebelum kelahiran Nabi Allah Muhammad saw hingga kiamat dan penyempurna dari segala pedoman, dan acuan, juga penyempurna kitab lain yang telah Allah turunkan sebelum al-quran. Sedangkan hadist merupakan percakapan atau perkataan yang Rashulullah saw lakukan dahulu ketika beliau masih hidup. Hadist inilah sebagai acuan yang digunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan tentang perkara yang terjadi pada waktu itu, sedangkan ketika kejadian itu belum ada sesuatu pun perkara sama yang sudah diputuskan atau pembahasannya atau juga hukumnya di dalam kitab Al-quran. Namun, jika tetap saja di dalam al-quran dan al-hadist tak ada hukumnya mengenai suatu perkara yang sedang dikeluhkan, maka itulah salah satu perannya metodologi studi islam. Atas pendidikan inilah, sosok para alim ulama dan tokoh agama bermusyawarah menyimpulkan keputusan berdasarkan ilmu islam yang tidak bertentangan ajaran di dalam kitab Al-quran dan as-sunnah serta dapat dijadikan  jalan keluar serta solusi yang baik dalam menyelesaikan dan menuntaskan masalah yang disidangkan tersebut beserta perbedaan pendapat yang menjadi dampak dalam masaslah-masaslah yang ditimbulkan. Dan proses dalam menafsirkan dua sumber utama syariah (Al-quran dan al-hadist) disebut fiqh (secara harfiah berarti kecerdasan) atau hukum islam.[2]

 Dan dengan izin Allah, meskipun dalam hadist tidak ada, dengan adanya keyakinan dan kebenaran mematuhi keputusan yang meskipun hanya di dapat dari musyawarah para alim ulama dan tokoh besar islam, maka tetap saja kita tetap berpegang teguh pada Allah dan Rashulullah saw, Al-quran dan al-hadist, karena mematuhi ulil amri sama saja mematuhi keduanya, apabila tidak bertentangan dan seiring sejalan dengan perintah-Nya. Jika umat muslim mengikuti aturan didalam Al-quran dan al-hadist maka hidupnya akan berjalan lurus, aman, tentram dan damai dalam segala kegiatan yang ia jalani. Karena sudah menjadi publik yang sangat jelas bahwasannya ajaran-ajaran agama islam merupakan sistem yang mengatur tata keimanan sebagai penyempurna segala peribadatan sebelum-sebelumnya. Apabila ia tak berpedoman pada al-quran dan al-hadist, maka bisa jadi mereka masih bahagia di dunia, tetapi kita tidak tahu seberapa ganjaran yang Allah jatuhkan kepadanya di alam setelah hidup di bumi ini berakhir, akhirat nanti namanya. Sedang, tradisionalis percaya bahwa setiap penyimpangan oleh ajaran hukum Al-quran seperti yang dijelaskan oleh Nabi saw dan dipraktikkan oleh modernis ahli hukum islam adalah sebuah konsep konsep assing yang tidak dapat benar jika dikaitkan dengan islam , melainkan lebih sebagai pendapat ahli hukuj itu sendiri. [3]

Baik pula jika seseorang mempunyai iman maka hidupnya akan merasakan ketentraman didalam hatinya. Iman adalah dasar kekuatan dan keteguhan dalam pribadi setiap manusia. Jika orang mempunyai iman maka ia tak akan pernah terbawa oleh arus gelombang-gelombang kehidupan setiap zaman, dan ia teringkar dari kata tergulung oleh gelombang-gelombang yang menerjang arus kehidupan. Selain itu, telah disebutkan bahwa islam juga mengajarkan supaya manusia tidak  melulu memfokuskan tujuan kehidupan bahagia didunia saja, akan tetapi manusia juga harus memikirkan bagaimana kehidupan setelah kehidupan di dunia berakhir (ahirat). Selanjutnya, islam adalah agama sempurna yang ajaranya datang dari Allah SWT, kemudian diamanahkan kepada Rashulullah rahmat semesta alam sebagai nabi terakhir kepada seluruh umat manusia. Setelah datangnya agama penyempurna, yakni agama islam, maka agama islam merupakan satu-satunya agama yang diperkenankan Allah dan selain dari agama islam adalah agama yang tidak diizikan Allah SWT. Oleh karena itu pula, manusia dibekali dengan pendidikan islam yang seharusnya ditanamkan sejak dini, agar manusia selalu berada dijalan yang lurus berdasarkan syariat agama islam.

Manusia hidup di dunia ini diibaratkan dengan menanam bibit yang akan berbuah. Apabila umat manusia menanam benih-benih, pasti suatu saat akan memetik buah hasil panennya, dan mereka pasti akan mendapatkan hasilnya sesuai dengan apa yang mereka tanam dan dengan bagaimana mereka merawatnya. 

Begitupun manusia, jika manusia memanfaatkan kesempatan umur di hidupnya dengan menanam benih-benih kebaikan (amaliah), maka kebaikan-kebaikan  tersebut akan dipanen dan dituah pada saat diakhirat kelak, setelah berakhirnya kehidupan di dunia. Allah pasti akan membalas kebaikan-kebaikan yang ditanam melalui bibit yang berujung menjadi pohon yang berbuah tersebut, dengan memberikan kedudukan dan posisi yang sesuai amalan mereka dan menempatkan orang-orang tersebut didalam syurganya Allah SWT. Begitupun sebaliknya, apabila umat manusia melakukan atau melaksanakan atau menanam benih-benih amalan keburukan, maka hasilnya yang akan dipanen ketika diakhirat kelak, dan pasti sesuai dengan apa yang mereka perbuat selama mereka hidup di dunia dan mereka itu akan diberikan balasan yang setimpal dengan buah yang mereka petik, Allah akan memperlakukan mereka yaitu dengan cara manusia tersebut akan dimasukkan kedalam nerakanya Allah SWT. Oleh karena itu, manusia diberikan ilmu pendidikan, khususnya tentang adab. Baik adab manusia kepada Tuhannya, adab kepada sesama manusia, juga adab dengan alam sekitar mereka. 

Manusia-manusia itu sama saja seperti kita, bagaimana kita akan menanam dan memanen hasil dari bibit yang sudah disiamkan. Dalam kehidupan, tak mungkin kita akan selalu berjalan mulus, pasti kita akan menemukan problematika dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, dalam memutuskan suatu perkara janganlah kita sembarangan mengambil keputusan. Itulah mengapa, dengan cara diadakan mata kuliah Metodelogi Studi Islam ini diperguruan tinggi untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan yang sesuai dengan syariat islam sebagai bekal unrtuk menjalani kehidupan di dunia dan mencapai kebahagiaan di akhirat, karena setiap peneliti studi islam diwajibkan untuk melakukan kajian dengan metode critical thought, tidak hanya berpatokan pada praktik pemikiran tertentu yang digunakan, maupun objek pemikiran yang menjadi titik fokus perhatian sebuah penelitian.[4]


[1] “10ipi113363.pdf,” t.t., 74.
[2] Syafaul Mudawam, “Syariah – Fiqih – Hukum Islam” 46 (2012): 8.
[3] Syafaul Mudawam, “Syariah – Fiqih – Hukum Islam” 46 (2012): 3.
[4] Muhammad Azhar, “METODE ISLAMIC STUDIES STUDI KOMPARATIF ANTARA ISLAMIZATION,” t.t., 9.
Share This Article :
Candra fitriyanto

Pemuda dari desa yang ingin menjadi pebisnis, yang saat ini masi bekuliah di IAIN Metro Lampung Tandris Matematika (alamat: Mujirahayu kecamatan; seputih agung Kab: lam-teng)

5606159572399492275